Novel 'Fang Si-Chi's First Love Paradise' Kisah Pilu dari Taiwan, Diterbitkan di Indonesia
- Istimewa
VIVA Jogja - Penerbit asal Yogyakarta, Shira Media menerbitkan novel fenomenal yang mengguncang Taiwan, Fang Si-Chi's First Love Paradise, karya Lin Yi-Han. Novel ini diterjemahkan dari bahasa Mandarin oleh Naomi Midori.
Isi novel Fang Si-Chi's First Love Paradise ini bukan cuma fiksi tetapi merupakan pernyataan mendalam tentang trauma, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan pendidikan.
Novel ini menceritakan kisah Fang Si-Chi, seorang gadis cerdas dan kutu buku berusia 13 tahun yang menjadi korban manipulasi dan pelecehan seksual oleh gurunya, Pak Lee. Ternyata, selain Si-Chi, ada banyak gadis korban Lee, yang beberapa di antara mereka sampai mengalami sakit mental, kehilangan akal, bahkan mengakhiri hidupnya.
Melalui alur cerita yang pedih dan menohok, Lin Yi-Han dengan gamblang mengungkap bagaimana Lee memanipulasi Si-Chi hingga gadis itu meyakini bahwa hubungan paksaan tersebut adalah bentuk 'cinta pertama'.
Ketika pertama kali diterbitkan di Taiwan pada 2017, novel debut Lin Yi-Han ini memberikan dampak masif, mendorong gerakan #MeToo di negara tersebut, dan mendesak penerapan undang-undang yang lebih ketat terhadap pemantauan pengajar.
Fang Si-Chi's First Love Paradise menjadi satu-satunya novel Lin Yi-Han dan berhasil terjual hingga melampaui satu juta eksemplar di seluruh dunia.
Sosiolog dan cendekiawan asal Cina, Li Yinhe, memuji perspektif sosiologis novel ini yang dianggap meningkatkan kesadaran sosial terhadap pencabulan anak dan kekerasan dalam rumah tangga. "Dari nilai-nilai sastranya, Lin Yi-Han benar-benar luar biasa dan layak mendapatkan semua hormat. Dia sungguh-sungguh seorang novelis berbakat," katanya.
Penerbitannya di Indonesia, di tengah kondisi darurat kekerasan seksual yang sering melibatkan figur otoritas yang berdalih pendidikan atau agama, menjadi sangat krusial.
Buku ini menawarkan visi yang menghancurkan standar ganda yang seksis, budaya menyalahkan korban (victim-blaming) yang mengakar, serta relasi kuasa berbahaya dalam masyarakat.
Pembaca pun diajak belajar memahami dunia dari kacamata remaja, dan bagaimana orang dewasa memanipulasi mereka. "Fang Si-Chi berusaha mencari bantuan. Tapi tidak ada yang mendengar, bahkan orangtuanya. Ingin cerita ke sahabat, tapi dia merasa sahabatnya bukan orang yang tepat. Sekalinya ada orang yang memahami, dia tidak bisa cerita," kata editor buku ini Francisca Ratna.