Ritual Labuhan Merapi sebuah Praktik Konservasi Hutan

Ritual Labuhan Merapi
Sumber :
  • DOK

 

img_title Ribuan Warga Manfaatkan Klinik Perizinan dan Investasi DPMPTSP Kota Yogyakarta

VIVA Jogja - Ritual Labuhan Merapi bukan hanya warisan budaya Keraton Yogyakarta, tetapi juga menjadi praktik ekologis yang berkontribusi nyata dalam konservasi hutan di lereng Gunung Merapi. Penelitian terbaru dari mahasiswa UGM mengungkap bahwa tradisi ini mengandung sistem nilai yang mendukung pelestarian vegetasi dan ekosistem kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Setiap tanggal 30 Rajab, Keraton Yogyakarta menggelar Ritual Labuhan Merapi di lereng Gunung Merapi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam. Namun di balik prosesi spiritual ini, tersimpan nilai-nilai ekologis yang telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat sekitar. Tradisi ini dilaksanakan di zona adat TNGM, dari Pos 1 Bedengan hingga Pos 2 Srimanganti, dan melibatkan pelarungan sesaji, kirab gunungan, serta penanaman spesies lokal seperti tesek yang memiliki fungsi ekologis penting.

img_title Gotong Royong Bedah Rumah di Semaki, Pemkot Yogyakarta Teguhkan Solidaritas Warga

Kajian Etnoekologi

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian bertajuk “Labuhan Merapi: Analisis Aspek Ekologi Ritual dalam Upaya Konservasi Hutan dan Relevansinya dalam Perspektif Sains Modern.” Tim ini terdiri dari Bhara Dewaji (Kehutanan 2023), Vina Indrawati, Yassa Allaya Annas, Reina Arkhadia Eka Putri, dan Inoora Putri Haliza. Mereka menggunakan pendekatan etnoekologi, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, serta analisis vegetasi untuk mengungkap keterkaitan antara ritual dan konservasi.

img_title Lomba Masak Warnai Hari Anak Nasional, Media dan Pemerintah Perkuat Sinergi

Menurut Bhara Dewaji, Labuhan Merapi mengandung aturan adat seperti larangan menebang pohon, tidak membawa pulang tanaman dari lokasi ritual, serta kewajiban menjaga vegetasi alami. Mitos tentang Eyang Sapu Jagad turut membentuk cara masyarakat menghormati alam Merapi. “Tradisi ini bukan hanya spiritual, tapi juga sistem ekologis yang terintegrasi,” ujarnya.

Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa beberapa tanaman yang digunakan dalam ritual memiliki fungsi ekologis ganda. Selain menjadi bagian dari sesaji, tanaman seperti tesek dan gadhung mlati berperan dalam mencegah erosi, menjaga kelembaban tanah vulkanik, dan mendukung kestabilan ekosistem lereng gunung.

Kolaborasi Konservasi dan Budaya

Sebagai langkah awal integrasi nilai budaya ke dalam strategi pengelolaan kawasan konservasi, tim PKM-RSH UGM telah memaparkan rencana penelitian mereka kepada Balai TNGM. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai TNGM, pimpinan SPTN Wilayah I dan II, serta berbagai koordinator bidang seperti Program, Data dan Informasi, Kehumasan, Penyuluh Kehutanan, dan Polisi Hutan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dalam menjaga keberlanjutan hutan Merapi.

Halaman Selanjutnya
img_title