Jogja, Harmoni yang Lahir dari Kearifan Lokal
- Humas UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Yogyakarta tetap dikenal sebagai kota yang tenang dan damai meski berbegai wilayah muncul gesekan antar masyarakat. Prof Dr Sidik Jatmika, dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pegiat budaya, rahasia itu terletak pada cara masyarakat Jogja merawat perdamaian melalui kearifan lokal.
Dalam sebuah diskusi kerukunan pemuda antarumat beragama yang digelar komunitas Interfaith Youth Hub bersama Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMY, Sidik menuturkan bahwa masyarakat Jogja memiliki cara unik dalam menyelesaikan persoalan. Alih-alih mengedepankan konfrontasi, mereka memilih pendekatan yang halus, penuh humor, dan sarat nilai budaya.
“Orang Jogja itu sopan, suka bercanda, dan lebih takut pada hukum alam daripada hukum buatan manusia,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia mencontohkan praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah buang air kecil sembarangan, masyarakat tidak serta-merta menegur dengan keras atau memberi sanksi formal. Sebagai gantinya, mereka menaruh sesajen di titik-titik tertentu. Cara ini membuat pelaku merasa sungkan, lalu berhenti melakukannya. Bagi Sidik, inilah bentuk “hukum alam” yang bekerja efektif tanpa harus menimbulkan konflik.
Sidik juga mengangkat kekayaan narasi budaya Jogja yang ia rangkum dalam karyanya. Ia membagi cerita masyarakat ke dalam lima kategori: lelucon istana, lelucon masyarakat umum, lelucon tentang Indonesia mini, lelucon mahasiswa, dan lelucon Jogja sebagai kota internasional. Menurutnya, humor-humor ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana kritik sosial yang menjaga harmoni.
Lebih jauh, ia menyinggung filosofi khas Jogja, Memayu hayuning bawana, yang berarti merawat keindahan dan kelestarian dunia. Filosofi ini menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Bahkan tata ruang kota Yogyakarta pun, kata Sidik, mencerminkan filosofi tersebut. Gunung Merapi di utara dianalogikan sebagai kepala, Keraton sebagai perut, dan Alun-alun Selatan sebagai ruang keluarnya kebudayaan setelah melalui proses pemaknaan.
Diskusi ditutup dengan sebuah ungkapan Jawa yang sarat makna: Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake. Artinya, menyerang tanpa pasukan dan menang tanpa merendahkan. Filosofi ini mencerminkan nilai yang dipegang teguh masyarakat Jogja, yakni menghindari sikap mempermalukan orang lain di ruang publik serta tidak mempertontonkan kelebihan secara berlebihan.