Sugengan dan Tantangan Wisata Keraton Yogyakarta
VIVA Jogja - Upacara Sugengan yang bertepatan dengan Ulang Tahun ke-38 Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi momen penting bagi Keraton Yogyakarta. Pada Minggu, 18 Januari 2026 bertepatan dengan 29 Rejab Dal 1959, kompleks Kedhaton ditutup sementara untuk publik. Penutupan ini dilakukan demi kelancaran prosesi adat, dan wisatawan baru dapat kembali berkunjung mulai Selasa, 20 Januari 2026 setelah seluruh rangkaian upacara selesai.
Di balik perayaan adat tersebut, Keraton Yogyakarta menghadapi tantangan baru dalam sektor pariwisata. Sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski angka kunjungan masih mencapai sekitar 1,2 juta orang, tren penurunan terlihat jelas di beberapa unit wisata. Museum Wahanarata menjadi unit dengan penurunan paling tajam, sementara Kagungan Dalem Kedhaton dan Taman Sari juga mengalami penurunan meski tidak sedalam Museum Wahanarata.
Carik Kawedanan Radya Kartiyasa, Nyi Raden Wedana Noorsundari, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Persaingan destinasi wisata lain di Yogyakarta yang semakin beragam membuat wisatawan memiliki banyak pilihan. Selain itu, tren generasi muda yang lebih tertarik pada wisata alam dan modern turut memengaruhi minat berkunjung ke situs budaya. Kondisi ekonomi masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang menekan daya beli wisatawan.
Meski demikian, Keraton Yogyakarta tetap menjadi salah satu destinasi utama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Angka kunjungan yang masih menembus lebih dari satu juta orang menunjukkan bahwa daya tarik sejarah dan budaya Keraton tetap kuat. Untuk mengantisipasi tren penurunan, pihak Keraton berencana menggelar Festival 2026 dengan menampilkan atraksi budaya, pameran seni, serta paket wisata edukasi yang diharapkan mampu menarik kembali minat wisatawan.
Penurunan jumlah kunjungan ini menjadi tantangan bagi pengelola Keraton dalam mengemas atraksi budaya agar lebih relevan dengan tren wisatawan masa kini. Di satu sisi, Keraton harus menjaga nilai sejarah dan tradisi yang menjadi daya tarik utama, namun di sisi lain perlu menghadirkan inovasi agar tetap kompetitif di tengah maraknya destinasi wisata baru di Yogyakarta.
Dengan langkah strategis yang tengah dipersiapkan, Keraton Yogyakarta berharap dapat kembali meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan pada tahun mendatang. Lebih dari sekadar destinasi, Keraton ingin memperkuat posisinya sebagai pusat budaya dan sejarah yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta, tetapi juga daya tarik wisata nasional.