Ramai Disorot! ‘To My Beloved Thief’ Dikritik Gegara Adegan Selir Duduk Bareng Raja

Drama My Beloved Thief
Sumber :
  • VIVA Jogja/IG Panncafe

VIVA Jogja - Drama sageuk KBS2 ‘To My Beloved Thief’ tengah menjadi sorotan publik. Kali ini, bukan karena alur romantis atau akting para pemainnya, melainkan karena kritik tajam terkait akurasi sejarah yang dinilai semakin longgar.

img_title Giselle aespa Viral! Visual dan Proporsi Tubuhnya di Pop-Up Store Bikin Netizen Terpukau

Perdebatan mencuat usai penayangan sebuah adegan yang memperlihatkan seorang selir duduk sejajar dengan raja di ruang pertemuan resmi istana, bahkan terlibat percakapan santai bersama para pejabat tinggi.

Bagi sebagian penonton, adegan tersebut dianggap tidak masuk akal jika merujuk pada sistem kerajaan Joseon yang dikenal sangat ketat dan hierarkis. Dalam konteks sejarah, ruang pertemuan raja merupakan area paling eksklusif, di mana aksesnya dibatasi ketat.

img_title Boikot Drama Korea Viral! Fans Asia Tenggara vs Netizen Korea Selatan Memanas

Bahkan tokoh penting seperti ratu ibu pun tidak bisa sembarangan masuk, apalagi seorang selir. Karena itu, banyak penonton menilai drama ini terlalu mengorbankan pakem sejarah demi kebutuhan cerita.

“Di era Joseon, ruang itu bahkan tidak bisa dimasuki ratu ibu. Tapi di drama ini, selir bisa duduk di sana sambil mengobrol dengan para pejabat,” tulis salah satu netizen yang komentarnya viral di komunitas online.

img_title Prime Video Umumkan Line-Up Drakor 2026, Im Si-wan hingga Gianna Jun Siap Ramaikan Tahun Ini

Meski demikian, tidak semua penonton sepakat dengan kritik tersebut. Sebagian netizen justru membela To My Beloved Thief, mengingat drama ini mengusung genre fantasi sageuk dengan elemen pertukaran jiwa.

Menurut mereka, menuntut akurasi sejarah penuh pada cerita fiksi justru membatasi kreativitas.

“Ini kan fantasi sageuk, jadi ya memang begitu,” tulis seorang netizen. Komentar lain menambahkan, “Kalau terlalu patuh ke akurasi sejarah, perempuan malah jadi nggak bisa berbuat apa-apa.”

Diskusi pun berkembang lebih luas, menyentuh isu representasi perempuan dalam drama sejarah. Ada yang menilai kritik soal akurasi sering kali berujung pada pembatasan peran karakter perempuan, sementara yang lain menegaskan bahwa perempuan di kerajaan Joseon tetap memiliki kekuasaan dan tanggung jawab, meski tidak selalu tampil di ruang publik.

Beberapa komentar lain berbunyi: “Emang pertukaran jiwa itu ada akurasi sejarahnya?” “Ini bukan dokumenter atau bahan edukasi, nikmati saja sebagai drama.” “Justru karena ini fantasi sageuk, jangan terlalu ketat soal akurasi.”

Halaman Selanjutnya
img_title