“Jemari Kecil”: Musikal Inklusif Fantasi Tuli Membuka Panggung Seni di Galeri Indonesia Kaya
- Istimewa
VIVA Jogja - Suasana Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu, 31 Januari 2026, terasa berbeda. Panggung yang biasanya dipenuhi lantunan musik dan dialog lisan, kali ini menghadirkan sebuah musikal yang mengandalkan bahasa isyarat, gerak tubuh, dan ekspresi visual sebagai medium utama. Pertunjukan bertajuk “Jemari Kecil” menjadi penanda awal rangkaian pentas akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya, sekaligus mencatat sejarah sebagai teater musikal Tuli pertama di Indonesia.
Karya ini dipersembahkan oleh Fantasi Tuli, komunitas seni yang mempertemukan seniman Tuli dan dengar dalam satu ruang kolaborasi. Selama 90 menit, penonton diajak menyelami kisah Mentari, seorang penari Tuli yang kehilangan semangat setelah kepergian sang ayah, seorang musisi. Pertemuannya dengan Awan, seorang produser musik, menjadi titik balik yang menghidupkan kembali kecintaannya pada tari. Cerita ini disampaikan melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater, menghadirkan pengalaman emosional yang melampaui batas bahasa lisan.
Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya, menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang temu yang merayakan keberagaman cara berekspresi. “Kolaborasi antara seniman Tuli dan dengar menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat dihadirkan secara inklusif. Perbedaan bukanlah batas, melainkan kekayaan yang saling melengkapi,” ujarnya.
Fantasi Tuli sendiri telah mencatat sejarah sebagai komunitas Tuli pertama di Indonesia yang menampilkan pertunjukan musikal tunggal. Dalam produksi “Jemari Kecil”, pimpinan produksi sekaligus penulis naskah, Pascal Meliala, bersama Palka Kojansow, menekankan bahwa kolaborasi dibangun secara setara sejak awal proses kreatif. Sutradara Hasna Mufidah, seorang seniman Tuli, berkolaborasi dengan Dhea Seto dari kalangan dengar, menghadirkan pendekatan artistik yang saling melengkapi. Proses kreatif ini melibatkan pementas lintas generasi, dari usia 12 hingga 43 tahun, memperkaya dinamika panggung dengan energi yang beragam.
Pascal menambahkan, tantangan terbesar bukanlah mengajarkan teman Tuli menari atau memahami musik, melainkan menciptakan cerita yang kuat dan menghibur. “Teman-teman Tuli punya semangat belajar yang luar biasa. Dengan akses yang tepat dan lingkungan yang mendukung, semua hal bisa dilakukan,” katanya.
Kehadiran “Jemari Kecil” menjadi pembuka rangkaian musikal Indonesia di Galeri Indonesia Kaya yang berlangsung hingga Maret 2026. Penonton dapat menyaksikan berbagai pementasan secara gratis, mulai dari “Rumah Pikiran & Hati” oleh Jakarta Art House, “Sie Jin Kwie Ceng Tang” oleh Sanggar Wayang Potehi Siauw Pek San, hingga musikal “Kakek dan Perahu Kuning” oleh Waktunya Main.