Imlek 2026 di Yogyakarta: Lampion, Ramadan, dan Jejak Tradisi Tionghoa
- Bing Image Creative
VIVA Jogja - Menjelang malam Tahun Baru Imlek 2026, Kampung Ketandan di jantung Malioboro Yogyakarta berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan lampion merah bergantung di atas jalanan, memantulkan sinar hangat yang berpadu dengan aroma kue keranjang, mie panjang umur, dan wedang ronde. Di tengah keramaian, suara tambur barongsai bergema, bersahut-sahutan dengan lantunan azan magrib dari masjid sekitar. Tahun ini, Imlek bertepatan dengan Ramadan, menjadikan suasana perayaan sebagai panggung toleransi yang jarang terjadi.
Sejak 2005, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) rutin digelar di Kampung Ketandan. Tahun 2026 menjadi edisi ke-21, berlangsung dari 25 Februari hingga 3 Maret. Data dari Dinas Pariwisata DIY mencatat, PBTY mampu menarik lebih dari 50 ribu pengunjung setiap tahun, dan kali ini diperkirakan meningkat hingga 70 ribu karena keunikan momentum Imlek-Ramadan. Hotel-hotel besar di Jogja melaporkan tingkat okupansi naik 15 persen dibanding bulan sebelumnya, sementara pedagang kaki lima di Malioboro mengaku omzet mereka melonjak dua kali lipat selama festival.
Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto, menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar pesta budaya. “Kami ingin Imlek menjadi ruang perjumpaan. Tahun ini lebih indah karena Ramadan dan Imlek berjalan beriringan. Kami bahkan bekerja sama dengan komunitas Muslim untuk menyediakan takjil bagi pengunjung yang berpuasa,” ujarnya.
Tradisi Tionghoa yang masih terjaga di Yogyakarta memperkaya suasana Imlek. Pertunjukan barongsai dan liong naga menjadi atraksi utama, dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat. Di Kelenteng Poncowinatan, umat Tionghoa melaksanakan sembahyang leluhur dengan dupa yang mengepul, sementara di panggung utama tampil Wayang Potehi, seni boneka tradisional Tionghoa yang sudah beradaptasi dengan bahasa Jawa. Pertunjukan ini menjadi simbol akulturasi budaya yang telah berlangsung ratusan tahun di kota ini.
Selain itu, tradisi kuliner juga menjadi daya tarik. Kue keranjang, mie panjang umur, dan sup delapan keberuntungan disajikan di rumah-rumah keluarga Tionghoa. Di Malioboro, pedagang lokal ikut berkreasi dengan menghadirkan menu adaptasi seperti bakpia isi kacang merah khas Imlek. Menurut data Asosiasi Pengusaha Kuliner Jogja, penjualan makanan khas Imlek meningkat 30 persen dibanding tahun sebelumnya.