Indiria Maharsi dan Jejak Panjang Pengkaryaan Ilustrasi Indonesia
- jogja.viva.co.id/Cahyo PE
VIVA Jogja - Nama Indiria Maharsi dalam dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia menempati posisi yang khas dan berkelanjutan. Ia bukan sekadar perupa atau ilustrator, melainkan figur akademisi-seniman yang secara konsisten membangun praktik artistik berbasis riset, simbolisme, dan refleksi kultural.
Jejak pengkaryaan Indiria selama bertahun-tahun menunjukkan kontinuitas yang jarang ditemui: sebuah lintasan kreatif yang menyatukan kerja intelektual, pengalaman visual, dan komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan serta kearifan lokal.
Pada 2025, lintasan panjang tersebut menemukan momentumnya ketika Indiria tampil dalam dua pameran seni berskala besar yang memiliki resonansi nasional dan internasional, yakni Yogyakarta International Creative Arts Festival (YICAF) #3 di Yogyakarta dan Pameran Seni Visual Jazz Gunung Series 1 & 2: Bromo 2025 di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.
Dalam dua konteks pameran yang berbeda secara geografis dan kuratorial itu, Indiria menghadirkan karya monumentalnya Eternal Light (2020), sebuah lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 200 x 150 sentimeter yang merepresentasikan puncak perenungan artistiknya tentang kehidupan, spiritualitas, dan konflik nilai.
Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini dikenal luas memiliki latar akademik yang kuat sekaligus praktik visual yang matang. Ilustrasi dan karya seni rupa yang ia hasilkan tidak pernah berdiri sebagai dekorasi semata, melainkan sebagai medium berpikir—ruang tafsir yang mengajak publik membaca ulang relasi manusia dengan semesta.
Dalam konteks ini, pengkaryaan Indiria dapat dipahami sebagai perjalanan panjang yang berangkat dari disiplin ilustrasi, lalu berkembang menjadi praktik seni rupa naratif dengan skala dan kedalaman konseptual yang kian luas.
Karya Eternal Light menjadi penanda penting dalam perjalanan tersebut. Dalam katalog pameran YICAF #3, Indiria menjelaskan bahwa karya ini berkisah tentang sosok ‘ibu’ sebagai penjaga cahaya abadi.
"Sosok ini menghadapi ancaman dari figur-figur yang berupaya merebut cahaya demi kepentingan pribadi, digerakkan oleh nafsu dan kehilangan kesadaran terhadap kearifan, kesemestaan, dan akal budi," kata Indiria.
"Pertarungan antara ‘ibu’ dan para perebut cahaya berlangsung tanpa akhir, menjadi metafora tentang konflik moral yang terus berulang dalam sejarah manusia," imbuh Indiria.