Melukis Cahaya, Merawat Ingatan: Jejak Fotografi Hartono Karnadi dan Narasi Budaya dalam Karya Oriental

Karya Hartono Karnadi
Sumber :
  • Dok Pribadi

VIVA Jogja - Di sebuah ruang gelap yang hening, Hartono Karnadi menyalakan lentera kecil. Cahaya hangat itu berpendar perlahan, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus spiritual. Dengan penuh kesabaran, ia mengarahkan senter ke permukaan teko porselen, mangkuk keramik, buah pir, dan sebuah meja cian-ap yang sarat makna sejarah. Dari proses panjang itu lahirlah Oriental (2022), sebuah karya fotografi still life yang tidak hanya merekam benda, tetapi juga merawat ingatan budaya.

img_title MR.D.I.Y. Art Competition 2026: Ruang Intensitas, Pertumbuhan, dan Ketahanan Seniman Indonesia

Perjalanan Hartono di dunia fotografi bukanlah sesuatu yang instan. Sejak 1986, ia aktif sebagai anggota Himpunan Seni Foto Amatir Yogyakarta (HISFA). Ketertarikannya semakin berkembang ketika menempuh studi di Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta. Pada masa itu, ia juga memperkaya pengalaman sebagai asisten fotografer Johnny Hendarta di CPC Studio, yang membentuk kepekaan teknis sekaligus estetika dalam karyanya.

Seiring berjalannya waktu, Hartono aktif mengikuti berbagai pameran, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu pencapaian penting terjadi ketika ia berpartisipasi dalam International Visual Art & Design Exhibition di Chanthaburi College of Dramatic Arts, Bunditpatanasilpa Institute, Thailand, pada 14–15 Januari 2023. Dalam katalog resmi pameran tersebut, namanya tercatat sebagai seniman Indonesia dengan karya Oriental berukuran 80 x 70 cm, yang menjadi representasi Indonesia di forum seni visual internasional.

img_title Residivis Pencuri Gamelan di UGM dan ISI, Terungkap Lewat CCTV

Secara konseptual, Oriental berangkat dari gagasan akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia, yang melahirkan masyarakat Peranakan Tionghoa. Proses sejarah itu tidak hanya membentuk identitas sosial, tetapi juga menghasilkan artefak hibrida, salah satunya meja cian-ap atau cenap—meja kecil tradisional khas Peranakan Tionghoa yang digunakan untuk menyajikan manisan dalam perayaan Imlek maupun upacara adat. Dalam karya tersebut, cian-ap tampil berdampingan dengan teko, cangkir, dan mangkuk porselen, menegaskan identitas budaya Tionghoa sekaligus menyentuh lapisan sejarah yang lebih kompleks. Hartono menyoroti bagaimana pewarisan artefak budaya sempat terputus akibat kebijakan asimilasi pada masa Orde Baru, hingga bergesernya ritual tradisi yang kini digantikan versi modern.

Yang membuat Oriental istimewa bukan hanya tema budayanya, tetapi juga pendekatan teknisnya. Hartono menggunakan teknik painting with light, sebuah metode eksperimental dengan eksposur panjang di ruang gelap. Lentera digunakan sebagai cahaya ambient, sementara senter yang diberi selubung karton berfungsi layaknya kuas pelukis untuk “melukis” objek bagian demi bagian. Hasilnya adalah visual yang dramatis, di mana hanya bagian yang disentuh cahaya tampil terang, sementara sisanya tenggelam dalam remang yang penuh makna.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Yuk ke Spot Riyadi Jogja, Negeri Kabut dan City Light Prambanan yang Ramah di Kantong