Wotawati, Dusun ‘Matahari Terlambat’ di Gunungkidul yang Disulap Jadi Desa Wisata Ala Majapahit
- VIVA Jogja/jogjaprov.go.id
Gunungkidul, VIVA Jogja – Tersembunyi di lembah bekas aliran Bengawan Solo Purba, Dusun Wotawati perlahan bangkit menjadi destinasi wisata unik di wilayah Gunungkidul.
Berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat Yogyakarta, dusun terpencil di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo ini menawarkan panorama alam sekaligus kisah sejarah yang memikat. Wotawati dikenal memiliki fenomena alam yang tak biasa.
Letaknya yang berada di cekungan lembah dan diapit perbukitan membuat paparan sinar matahari lebih singkat dibanding wilayah lain. Warga setempat bahkan menyebutnya sebagai dusun dengan “matahari terlambat”, karena hanya menerima cahaya sekitar delapan jam setiap hari.
Lurah Pucung, Estu Dwiyono, mengatakan Wotawati merupakan satu-satunya padukuhan di kawasan lembah Bengawan Solo Purba. Kondisi geografis tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri.
“Dari sudut pandang lain, kami melihat potensi pariwisata yang berbeda. Secara bentang alam dan geografis ini sangat menarik karena diapit perbukitan sehingga paparan sinar matahari minim,” ujarnya.
Tak hanya fenomena alam, tata desa Wotawati juga unik. Permukiman warga membentuk pola menyerupai labirin dengan gang-gang sempit yang saling terhubung antar rumah.
Menariknya, jalan-jalan tersebut awalnya merupakan saluran air atau drainase yang dirancang leluhur untuk mencegah banjir di kawasan lembah.
Melihat potensi itu, pemerintah kalurahan bersama warga sepakat mengembangkan Wotawati menjadi desa wisata terpadu. Konsep yang diusung pun tak biasa: menggabungkan gaya arsitektur Majapahit dan Mataram khas Yogyakarta.
Desain pagar menggunakan bata merah dengan bentuk Gapura Lar Badak, sementara fasad rumah akan dipercantik dengan sentuhan terakota. Pengembangan ini mendapat dukungan Dana Keistimewaan (Danais) pada 2023 dengan total anggaran Rp5 miliar.
Pembangunan fisik dimulai pertengahan 2024, meliputi pagar kawasan, pendopo, serta penataan fasad 79 rumah warga. Penataan kawasan terpadu ini rampung pada 2026.
“Yang kami bangun bukan hanya fisik, tetapi juga SDM masyarakat. Pariwisata di Wotawati tidak akan mengubah mata pencaharian warga yang 90 persen adalah petani,” tegas Estu.
Selain arsitektur tematik, pengalaman wisata yang ditawarkan pun berbasis kehidupan desa. Wisatawan dapat belajar bercocok tanam langsung bersama warga, menyusuri kampung bergaya Majapahit-Mataram, hingga menjelajah jejak Bengawan Solo Purba menuju destinasi terdekat seperti Pantai Ngungap.