“Ancak-Ancak Alis”, Permainan Anak Desa yang Kini Resmi Jadi Warisan Budaya Yogyakarta
- VIVA Jogja/tgrcampaign.com
VIVA Jogja - Di tengah gempuran permainan digital yang semakin mendominasi dunia anak-anak, Yogyakarta masih menyimpan kekayaan permainan tradisional yang sarat makna budaya.
Salah satunya adalah permainan Ancak-Ancak Alis, sebuah permainan rakyat yang kini telah resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dengan nomor 082/WB/KB.00.01/2025.
Permainan ini merupakan jenis permainan tradisional anak-anak yang bersifat rekreatif sekaligus edukatif. Keunikan Ancak-Ancak Alis terletak pada penggunaan istilah-istilah yang berkaitan dengan dunia pertanian. Hal ini mencerminkan eratnya hubungan kehidupan masyarakat Jawa dengan budaya agraris yang telah mengakar sejak lama.
Tidak ada ketentuan khusus mengenai jumlah pemain dalam permainan ini. Bahkan, semakin banyak anak yang ikut bermain, suasana akan semakin meriah. Permainan biasanya dilakukan di tempat yang luas dan rata, seperti halaman rumah, lapangan desa, atau tanah lapang di sekitar pemukiman.
Permainan dimulai dengan kesepakatan para pemain untuk memilih dua anak yang memiliki postur tubuh relatif sama kuat dan tinggi. Kedua pemain tersebut berperan sebagai “petani”. Mereka kemudian menyingkir sejenak dari kelompok untuk menentukan nama-nama yang diambil dari istilah pertanian, misalnya jagung dan kacang.
Setelah itu, kedua “petani” berdiri saling berhadapan dengan kedua tangan diangkat dan telapak tangan saling ditempelkan hingga membentuk semacam pintu gerbang atau terowongan. Sambil bertepuk tangan, mereka menyanyikan lagu tradisional Ancak-Ancak Alis. Lirik lagu ini sebenarnya memiliki beberapa variasi di berbagai daerah Jawa.
Namun di wilayah Yogyakarta, lagu tersebut dinyanyikan dengan lirik: "Ancak-ancak alis, si alis kabotan kidang, anak-anak kebo dhungkul, si dhungkul bambang tego, tego rendheng, enceng-enceng gogo beluk, unine pating jerapluk, ula apa ula dumung, gedhene salumbung bandhung, sawahira lagi apa, wong deso?"
Sementara itu, anak-anak lain berbaris memanjang dimulai dari yang bertubuh paling besar. Mereka saling memegang ujung baju teman di depannya, lalu berjalan berkeliling sambil mengikuti alunan lagu. Ketika lagu berhenti pada pertanyaan “Sawahira lagi apa, wong desa?”, anak yang berada di barisan paling depan harus menjawab dengan tahapan dalam proses menanam padi, seperti lagi ngluku (sedang membajak).