Bahu Dhanyang Kotagede, Detail Arsitektur Kecil yang Menjadi Identitas Rumah Tradisional Jawa
- VIVA Jogja/pcmkotagede.com
VIVA Jogja - Di kawasan bersejarah Kotagede, Yogyakarta, rumah-rumah tradisional Jawa tidak hanya dikenal karena bentuk joglo yang megah, tetapi juga karena detail arsitektur kecil yang sarat makna.
Salah satu elemen khas tersebut adalah bahu dhanyang, komponen bangunan yang menjadi penopang sekaligus ornamen penting pada rumah tradisional di wilayah ini. Bahu dhanyang memiliki kekhasan yang jarang ditemukan di daerah lain.
Elemen ini biasanya muncul pada bagian emper rumah yang beratap landai, sebagai kelanjutan dari atap bangunan joglo yang menjadi bangunan utama. Atap joglo sendiri memiliki kemiringan agak tegak dan membentuk struktur brunjung, yang menjadi ciri khas arsitektur rumah Jawa.
Keberadaan bahu dhanyang hampir selalu ditemukan pada bangunan emper yang menghadap ke arah selatan. Secara fungsi, komponen ini berperan sebagai penyangga tambahan pada konstruksi atap, khususnya pada bagian tritisan atau ujung atap yang menjorok keluar.
Pada struktur bangunan emper, terdapat batang usuk yang berhenti pada blandar. Di bagian ujung tritis, digunakan usuk tambahan. Salah satu ujung usuk tersebut bertumpu pada blandar, sedangkan ujung lainnya memerlukan balok penopang.
Balok penopang inilah yang disangga oleh konsul yang disebut bahu dhanyang. Dengan demikian, bahu dhanyang memiliki peran struktural penting untuk menjaga kestabilan ujung usuk agar tetap kokoh. Meski terlihat sederhana, proses pembuatan bahu dhanyang sebenarnya cukup kompleks.
Dalam konstruksinya setidaknya diperlukan tiga batang kayu utama. Pertama, batang horizontal yang menempel pada dinding atau kolom kayu. Kedua, batang vertikal yang berada di bagian ujung struktur. Ketiga, balok penghubung yang menempel pada blandar dan berfungsi sebagai tumpuan usuk.
Selain berfungsi sebagai elemen struktural, bahu dhanyang juga menjadi bagian yang paling kaya dengan unsur estetika. Komponen ini sering dihiasi dengan ukiran ragam hias yang rumit dan detail.
Motif flora menjadi pola yang paling umum digunakan, seperti bentuk daun bergerigi dan bunga yang dipahat dengan ketelitian tinggi. Ukiran tersebut disusun sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang. Pada batang horizontal dan vertikal, ukiran biasanya menghadap ke samping.