Lupis Mbah Satinem, Camilan Legendaris Jogja yang Manisnya Menyimpan Filosofi Kehidupan

Ketan Lupis
Sumber :
  • VIVA Jogja/penelitianpariwisata.id

VIVA Jogja - Di antara ragam kuliner tradisional yang hidup di Yogyakarta, ketan lupis menjadi salah satu camilan yang tak lekang oleh waktu. Makanan sederhana berbahan dasar beras ketan putih ini dikenal luas sebagai jajanan khas yang memiliki rasa manis, tekstur lembut, serta nilai filosofi yang mendalam.

img_title Gunungan Ludes Diperebutkan, Ruwat Bumi Guci Satukan Dua Wilayah Bersejarah

Lupis dibuat dari beras ketan yang dikukus hingga matang, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dengan bentuk segitiga yang dikenal sebagai sumpil. Setelah matang, lupis disajikan dengan taburan kelapa parut dan siraman gula jawa cair yang dalam tradisi Jawa disebut juruh atau kinca.

Perpaduan rasa gurih dari kelapa dan manisnya gula jawa menjadikan lupis sebagai camilan favorit bagi banyak orang. Di Yogyakarta sendiri, lupis telah lama dikenal sebagai makanan legendaris yang keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

img_title Aroma Tradisi di Meja Makan: Bebek Goreng Mbah Mangoen Soemarto

Bentuk lupis biasanya mengikuti bentuk bungkusnya. Pada awalnya, lupis dibuat berbentuk segitiga atau sumpil, namun di beberapa daerah juga ditemukan lupis berbentuk menyerupai lontong. Seiring perkembangan zaman, penyajian lupis juga mengalami perubahan.

Jika dahulu kelapa parut yang digunakan lebih halus, kini banyak penjual menyajikannya dengan kelapa parut kasar sebagai topping. Meski demikian, esensi rasa manis dari juruh gula jawa tetap menjadi ciri utama dari jajanan tradisional ini.

img_title Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo Kembali Digelar, Ribuan Warga Bersiap Memadati Kota

Saat ini, lupis dapat dengan mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pasar tradisional hingga pusat kuliner modern. Harganya yang terjangkau membuat makanan ini tetap menjadi favorit berbagai kalangan.

Di Yogyakarta, ada satu penjual lupis yang telah menjadi legenda kuliner, yaitu Lupis Mbah Satinem yang berada di kawasan Jalan Bumijo. Usaha ini sudah berdiri sejak tahun 1969 dan hingga kini tetap menjadi salah satu ikon kuliner tradisional di kota tersebut.

Berbeda dengan banyak penjual lainnya, Lupis Mbah Satinem masih mempertahankan cara pembuatan yang tradisional. Lupis tetap dibungkus menggunakan daun pisang, bukan plastik seperti yang banyak digunakan di kota-kota besar saat ini.

Penggunaan daun pisang memberikan aroma khas sekaligus membuat tekstur lupis lebih lembut. Selain itu, juruh yang digunakan juga dibuat dari gula jawa berkualitas yang dimasak menggunakan tungku kayu bakar. Proses memasak tradisional ini menghasilkan rasa manis yang lebih alami, lembut, dan kaya aroma.

Halaman Selanjutnya
img_title