Basiyo, Raja Dagelan Mataram yang Tetap Hidup dari Radio, Kaset hingga YouTube

Basiyo
Sumber :
  • VIVA Jogja/perpustakaan.anri.go.id

VIVA Jogja - Suara tawa khas dan dialog jenaka berbahasa Jawa kembali “hidup” ketika nama Basiyo dihadirkan dalam pameran kaset Cassette Reborn di Bentara Budaya Yogyakarta pada Maret 2022. Meski telah wafat sejak 1979, komedian legendaris dari Yogyakarta itu tetap dikenang sebagai salah satu maestro dalam kesenian tradisi Jawa.

img_title Ritual Rasul di Wiladeg, Gunungkidul: Harmoni Syukur, Budaya, dan Kebersamaan

Di jagat lawak berbahasa Jawa, Basiyo kerap disebut sebagai “superstar”. Lawakannya tak lekang oleh waktu. Dari era radio, kaset pita pada 1970-an, hingga platform digital saat ini, dagelan Basiyo masih terus diputar dan mengundang tawa generasi baru.

Salah satu lakon paling populer adalah “Basiyo Mbecak”. Ceritanya sederhana: Basiyo berperan sebagai tukang becak yang mengantar dua penumpang menuju sebuah resepsi pernikahan. Sepanjang perjalanan, obrolan ringan berubah menjadi perdebatan sengit yang akhirnya didamaikan oleh tokoh Pak Lurah.

img_title Gunungan Ludes Diperebutkan, Ruwat Bumi Guci Satukan Dua Wilayah Bersejarah

Di balik cerita sederhana itu, Basiyo menunjukkan kemahirannya sebagai komedian. Ia mampu menghidupkan karakter tukang becak dengan detail yang sangat kuat—mulai dari gaya bicara, cara berpakaian, hingga posisi sosialnya dalam masyarakat.

Salah satu bagian yang paling diingat penonton adalah ketika ia membanggakan kaki tukang becak yang kuat dan berotot. Dengan gaya percaya diri, ia berkata dalam bahasa Jawa, “Mang tonton kempol kulo,” yang berarti “Coba lihat paha saya.” Bahkan ia berseloroh pernah mengikuti lomba becak naik Gunung Merapi.

img_title Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo Kembali Digelar, Ribuan Warga Bersiap Memadati Kota

Seperti ditulis Frans Sartono dalam bentarabudaya.com, Basiyo juga memainkan simbol-simbol keseharian tukang becak, seperti sarung dan handuk kecil yang dililitkan di kepala. Bagi tokohnya, kain itu bukan sekadar penutup kepala, melainkan “mahkota” kebanggaan seorang tukang becak.

Di balik humor tersebut terselip kritik sosial yang halus. Basiyo sering membalikkan struktur sosial masyarakat yang cenderung feodal. Ia menolak dipanggil “Cak”—sebutan yang biasanya digunakan untuk memanggil tukang becak.

Sebaliknya, ia bercanda meminta dipanggil “Den” atau “Gus”, gelar yang identik dengan kalangan bangsawan. Dengan cara itu, Basiyo menyindir struktur sosial yang menempatkan profesi tertentu sebagai kelas bawah. Kritik itu disampaikan bukan dengan kemarahan, melainkan melalui tawa.

Halaman Selanjutnya
img_title