Garebeg Syawal 2026 di Yogyakarta: Tradisi Keraton, Simbol Sedekah, dan Antusiasme Rakyat
- Jogja.viva.co.id
VIVA Jogja - Ribuan orang memadati pelataran Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/3/2026), sejak pagi hari untuk menunggu kedatangan Gunungan dari Keraton Yogyakarta. Warga lokal hingga wisatawan dari berbagai daerah berbaur, menanti prosesi sakral Garebeg Syawal yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam rangka merayakan Idulfitri.
Tradisi tahunan ini kembali menjadi magnet budaya yang kuat di Yogyakarta. Berdasarkan data Dinas Pariwisata DIY, setiap penyelenggaraan Garebeg Syawal mampu menarik ribuan hingga puluhan ribu pengunjung, terutama pada momentum libur Lebaran. Selain menjadi atraksi budaya, kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan okupansi hotel, pergerakan UMKM, serta sektor kuliner di sekitar kawasan keraton.
Sekitar pukul 09.00 WIB, suasana yang semula penuh penantian berubah menjadi riuh. Iring-iringan bregada prajurit keraton mulai bergerak dari kompleks keraton, menuruni Siti Hinggil, dan berjalan menuju masjid. Barisan prajurit dengan pakaian adat khas serta alunan musik tradisional menciptakan nuansa sakral sekaligus meriah. Di belakangnya, lima gunungan yang menjadi inti prosesi diarak dengan penuh kehormatan.
Gunungan-gunungan tersebut terdiri dari Gunungan Kakung, Gunungan Estri (Wadon), Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Masing-masing memiliki makna filosofis yang dalam. Gunungan Kakung melambangkan kekuatan dan tanggung jawab pemimpin, sedangkan Gunungan Estri mencerminkan kesuburan, kehidupan, dan keseimbangan peran perempuan dalam masyarakat. Gunungan Dharat menggambarkan hasil bumi sebagai sumber kehidupan, sementara Gunungan Pawuhan berkaitan dengan pahala dan kebajikan.
Selain sebagai simbol kemakmuran, gunungan juga merepresentasikan konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Isi gunungan yang berupa hasil bumi seperti sayuran, kacang-kacangan, dan makanan tradisional mencerminkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Sang Pencipta. Dalam perspektif budaya Jawa, ini sejalan dengan filosofi “hamemayu hayuning bawana”, yakni menjaga keharmonisan dunia.
Makna Garebeg Syawal sendiri tidak hanya berhenti pada aspek simbolik. Secara historis, tradisi ini telah berlangsung sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Garebeg menjadi bagian dari strategi kultural kerajaan untuk mendekatkan diri kepada rakyat, sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan budaya. Oleh karena itu, perayaan ini selalu digelar bertepatan dengan hari besar Islam seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi.