Pasar Kangen Syawalan 2026: UMKM Bangkit, Wisata Budaya Yogyakarta Semakin Hidup
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Suasana Lebaran di Kota Yogyakarta tahun ini terasa semakin meriah dengan hadirnya Pasar Kangen Syawalan 2026 yang digelar di kawasan heritage Lodji Paris, Mantrijeron. Event yang berlangsung sejak 23 Maret hingga 5 April 2026 ini bukan sekadar pasar musiman, melainkan ruang interaksi budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif yang memberi napas baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir langsung pada Jumat (27/3/2026) untuk meninjau kegiatan tersebut. Dalam kunjungannya, ia menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung geliat UMKM, terutama di momentum libur Lebaran yang selalu menjadi magnet wisatawan. “Kita memang harus peduli dengan UMKM. Di sini lengkap, one stop shopping. Ada pasar, kuliner, fashion, hingga kerajinan. Ini apresiasi yang luar biasa,” ujarnya.
Wawan juga mengajak masyarakat untuk meramaikan acara sekaligus menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, keberlanjutan event seperti Pasar Kangen sangat bergantung pada partisipasi aktif warga. “Yang belum ke sini silakan datang, ajak warga ikut bergerak. Tentu kita juga harus peduli dengan lingkungan agar kegiatan seperti ini bisa terus berkembang,” tambahnya.
Magnet Wisata Budaya
Pasar Kangen edisi Syawalan kali ini menghadirkan nuansa berbeda. Dengan latar bangunan kolonial Lodji Paris, pengunjung seolah diajak kembali ke masa lalu. Ratusan pengunjung tampak memadati area pasar, menikmati jajanan tradisional, koleksi buku lawas, hingga suvenir unik yang ditawarkan. Suasana klasik berpadu dengan konsep ruang bernuansa tempo dulu, menjadikan pengalaman berbelanja lebih dari sekadar transaksi ekonomi, melainkan perjalanan nostalgia.
Pengelola Lodji Paris, Erie Prakoso, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi baru ini bertujuan membuka ruang ekonomi sekaligus menghadirkan atmosfer berbeda. “Total terdapat sekitar 68 stan yang terlibat dalam kegiatan ini, dan sampai sekarang sudah lebih dari tiga ribu pengunjung yang datang,” ungkapnya.
Salah satu pengunjung, Syifa, warga asli Yogyakarta, mengaku mengetahui acara ini dari media sosial. “Aku tahunya dari TikTok. Tadi sempat ke bagian barang antik, menurut aku itu paling menarik. Banyak buku lama, bahkan ada yang bahasa Inggris juga. Menarik sih pasarnya,” katanya. Ia menilai konsep pasar tradisional dengan pedagang yang mengenakan busana lurik dan pakaian Jawa menjadi daya tarik tersendiri. “Yang bikin beda, tadi ada penjual yang pakai lurik dan busana Jawa. Itu menarik. Buat teman-teman yang belum ke sini, menurut aku wajib coba,” tambahnya.