Matahari dari Tiganderket: Warisan Masri Singarimbun Hidup Kembali Lewat Film Dokumenter
- Istimewa
VIVA Jogja - Nama Prof Dr Masri Singarimbun, Hon. LLD kembali bersinar melalui sebuah inisiatif yang lahir dari keluarga dan sahabatnya. Tahun 2024 berdiri Masri Singarimbun Foundation (MSFoundation), sebuah yayasan yang berkomitmen mendokumentasikan serta mempublikasikan pemikiran dan karya intelektual sang maestro. Yayasan ini tidak hanya menjadi wadah pengembangan masyarakat, tetapi juga membangun jejaring dan creative hub, baik fisik maupun virtual, yang berfokus pada seni dan budaya.
Langkah pertama MSFoundation adalah menghadirkan film dokumenter berjudul “Matahari – The Sun of Tiganderket”, sebuah karya yang mengangkat kembali sosok Masri Singarimbun, anak bangsa dari tanah Karo yang pemikiran, komitmen, dan integritasnya terasa semakin relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Film ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan sebuah perjalanan emosional yang menyingkap warisan intelektual dan kemanusiaan seorang tokoh yang pernah disebut sebagai “matahari yang cemerlang dari Tiganderket.”
Masri Singarimbun dikenal sebagai intelektual avant-garde, penulis produktif, peneliti teliti, pengamat brilian, seniman berhati lembut, guru berdedikasi, sekaligus mentor yang simpatik. Di atas semua itu, ia adalah seorang pemikir yang selalu peduli pada sesama manusia dan kesulitan besar yang mereka hadapi. Seperti pepatah, “ketika gajah mati, gadingnya tetap ada; ketika manusia meninggal, namanya tetap ada.” Nama Masri Singarimbun kini kembali hidup melalui film yang digarap dengan riset mendalam, memanfaatkan dokumen langka, arsip, koleksi foto, serta kesaksian keluarga, kolega, dan mahasiswa yang mengenalnya dengan baik.
Film ini menghadirkan narasi yang indah dengan teknik sinematografi brilian dan alur cerita yang kuat. Di tengah kompleksitas masalah bangsa, kisah hidup Masri menjadi oasis yang memberi inspirasi, motivasi, dan orientasi baru bagi generasi penerus. Tidak heran, film ini mendapat apresiasi internasional. Pada tahun 2025, “Matahari – The Sun of Tiganderket” meraih Honorable Mention di NZ Indie Film Festival (Selandia Baru), penghargaan Outstanding Performance di Docs without Borders Film Festival (Amerika Serikat), serta menjadi finalis di MosDoc Fest (Rusia) bersama 21 karya lain dari seluruh dunia.
Tahun 2026, film ini kembali menorehkan prestasi dengan masuk Official Selection di Doc.London Documentary Film Festival (Inggris), bersaing dalam kategori Penghargaan Pilihan Penonton bersama 12 finalis internasional. Penonton Indonesia dapat mengakses film ini melalui streaming online mulai 24 Maret hingga 23 April 2026. Tidak berhenti di situ, film ini juga akan tampil di Festival Film Ghent Viewpoint (Belgia) sebagai salah satu dari tujuh finalis, dengan kesempatan kembali bersaing untuk penghargaan penonton melalui streaming di wilayah Benelux (Belgia, Belanda, Luksemburg) pada 13 April hingga 12 Mei 2026.