Langencarita 2026: Kreativitas Anak Yogya Menyuarakan Cinta Alam
- Dok Pemkot Yogya
VIVA Jogja - Festival Langencarita 2026 yang digelar di Grha Budaya Embung Giwangan, Umbulharjo, menghadirkan suasana meriah sekaligus penuh pesan moral. Ajang seni tradisional yang melibatkan anak-anak Sekolah Dasar dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta ini menjadi bukti bahwa generasi muda mampu mengekspresikan kreativitas sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir langsung dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas penampilan para peserta. Ia menilai anak-anak mampu memadukan gerak tari, musik, serta kekompakan dengan sangat baik. Iringan gamelan yang dimainkan selaras dengan gerakan para penari, menciptakan harmoni yang memikat penonton. Antusiasme masyarakat, terutama orang tua yang hadir mendukung anak-anak mereka, semakin menambah semarak festival. Dukungan penuh dari keluarga dianggap sebagai motivasi penting agar anak-anak terus berkembang dalam dunia seni tradisional.
Lebih jauh, Wawan menekankan bahwa Festival Langencarita memiliki potensi besar untuk menjadi ciri khas Kota Yogyakarta. Tema yang diangkat tahun ini, yakni cinta lingkungan, dinilai relevan dengan kondisi zaman. Cerita yang ditampilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan filosofi tentang pentingnya menjaga sungai dan alam sekitar. Menurutnya, inovasi dalam seni tradisional seperti langencarita harus terus dikembangkan agar tetap sesuai dengan tantangan masa kini.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa Festival Langencarita merupakan pementasan cerita yang memadukan tembang, tari, dan gamelan, dimainkan sepenuhnya oleh anak-anak. Festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan kompetisi berjenjang untuk mengukur potensi dan kualitas seni langencarita di tingkat kota. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus pendidikan karakter bagi generasi muda. Nilai-nilai keluhuran budi, kebinekaan, dan semangat kebersamaan yang terkandung dalam pertunjukan diharapkan dapat membentuk pribadi anak-anak yang lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari kontingen Pakualaman dan Mergangsan dengan lakon berjudul Upoto. Pertunjukan ini mengangkat persoalan sampah di bantaran sungai. Sutradara Yuning Rosanti menjelaskan bahwa cerita tersebut menghadirkan tokoh Ratu Sampah yang menjadi simbol ancaman akibat ulah manusia yang tidak menjaga kebersihan lingkungan. Dengan melibatkan sekitar 25 anak sebagai penampil dan pengrawit, pertunjukan ini berhasil menyampaikan pesan kuat agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilah sampah sejak dini.