Sumbu Filosofi Jadi Ruang Kolaborasi, Yogyakarta Dorong Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif
- Dok Pemkot Yogya
VIVA Jogja - Pameran Warisan Budaya Sumbu Filosofi di Pintu Timur Stasiun Tugu pada Sabtu (18/04/2026), dibuka langsung oleh Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai filosofis kota sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Dalam sambutannya, Hasto menekankan bahwa pelestarian warisan budaya tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata, melainkan harus mampu menghadirkan relevansi bagi generasi muda. Ia menilai pameran ini sebagai langkah strategis untuk menjadikan filosofi kota lebih mudah dipahami dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat. Menurutnya, heritage bukan hanya soal menjaga fasad bangunan, tetapi juga menghidupkan nilai yang terkandung di dalamnya agar menjadi pedoman hidup.
Lebih jauh, Hasto menegaskan bahwa penguatan nilai filosofis harus berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Ia berharap Sumbu Filosofi dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi ekosistem ekonomi kreatif. “Sumbu Filosofi ini bisa menjadi menara gading baru yang memberi dampak ekonomi sekaligus memperkuat identitas kota,” ujarnya.
Pameran ini sendiri menghadirkan kolaborasi lintas institusi, mulai dari budayawan, seniman, akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga tamu internasional dari TU Wien Austria. Kolaborasi internasional ini bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin sejak 2005. Penanggung jawab pameran, Nano Warsono dari ISI Yogyakarta, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Penanda Sejarahnya, Melihat Pusaka Dunia Melalui Sudut Pandang Berbeda melibatkan 30 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Magister Arsitektur UGM.
Nano menekankan bahwa tujuan utama pameran adalah menghadirkan cara baru dalam memahami filosofi kota. Dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan, masyarakat—terutama anak-anak—diharapkan dapat lebih mudah menangkap makna filosofis yang melekat pada ruang kota. “Kami ingin filosofi ini tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat dan menjadi kebanggaan bersama,” jelasnya.
Pameran yang berlangsung selama dua hari, 18–19 April 2026, menampilkan berbagai karya visual, instalasi, dan interpretasi kreatif tentang Sumbu Filosofi. Kehadiran mahasiswa lintas disiplin memperkaya perspektif dalam menafsirkan pusaka dunia ini, sehingga masyarakat dapat melihat warisan budaya dari sudut pandang berbeda.