Merawat Warisan Kartini Lewat Canting: Generasi Muda Jepara Hidupkan Budaya Batik di Hari Kartini
- bang Yos/ Vivajogja
JEPARA, VivaJogja – Semangat Raden Ajeng Kartini tidak hanya dikenang sebagai simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai bagian dari akar budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Di Kabupaten Jepara, peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4), menjadi momentum untuk meneguhkan kembali jati diri budaya melalui seni membatik warisan luhur yang sarat makna dan filosofi.
Batik bukan sekadar kain bergambar. Ia adalah identitas, cerita, sekaligus ekspresi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi. Setiap motif memiliki filosofi mendalam, mencerminkan hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, hingga harapan akan masa depan.
Dalam konteks Jepara, batik juga menjadi bagian dari denyut kebudayaan pesisir yang kaya akan akulturasi dan kreativitas.
Di belakang Pendopo Kartini lokasi bersejarah tempat Kartini tumbuh dan merumuskan gagasan-gagasan besarnya puluhan siswi SMP dari berbagai sekolah berkumpul untuk belajar membatik. Dengan mengenakan kebaya, mereka menghadirkan suasana yang sarat nuansa tradisi, seolah menghidupkan kembali jejak masa lalu dalam balutan semangat generasi masa kini.
Canting-canting kecil di tangan mereka mulai menorehkan malam (lilin batik) di atas kain putih. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran, serta ketelatenan nilai-nilai yang juga menjadi bagian dari karakter perempuan tangguh seperti Kartini.
Di sinilah pembelajaran budaya tidak hanya berlangsung secara teknis, tetapi juga secara filosofis.
Beberapa siswi tampak masih canggung, berusaha menyesuaikan alur tangan agar malam tidak melebar dari pola. Namun, ada pula yang sudah terlihat luwes, seperti Angel, siswi kelas IX SMP Masehi Jepara.
“Sudah sering praktik, jadi tidak terlalu sulit. Tantangannya lebih ke menyesuaikan motif,” ujar Angel.
Bagi Angel, membatik adalah ruang untuk melatih kesabaran sekaligus mengekspresikan diri. Ia juga mengaku terinspirasi dari sosok Kartini yang dikenal mencintai seni dan budaya, termasuk batik.
Pengalaman berbeda dirasakan Tiffani, yang baru pertama kali mencoba membatik. Meski sempat kesulitan, ia justru menemukan nilai tersendiri dari proses tersebut.
“Harus rapi, hati-hati, dan telaten. Tapi itu yang membuat saya suka,” katanya.
Menurutnya, kegiatan ini membuka pemahaman baru bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga keterampilan yang perlu dipelajari dan dijaga.