Jodone Ngandang: Saat Ribuan Warga Jepara Arak Cinta dan Syukur dalam Tradisi Jondang

Pluhan Parade Jondang di Desa Kawak
Sumber :
  • Bang Yos Vivajogja

JEPARA, VivaJogja – Di tengah gempuran budaya modern, Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, kembali membuktikan keteguhannya dalam merawat akar tradisi. Ribuan warga tumpah ruah dalam perayaan Tradisi Jondang, sebuah ritual agung yang bukan sekadar pawai hasil bumi, melainkan manifestasi dari filosofi Jawa mendalam tentang ikatan pernikahan dan harmoni kehidupan agraris 

img_title Bupati Jepara Tinjau Situs Diduga Peninggalan Ratu Kalinyamat, Siap Dukung Cagar Budaya

Event yang memasuki tahun ke-12 ini menyedot perhatian ribuan pasang mata. Sebanyak 26 jondang (wadah kayu tradisional) yang dihias penuh makna, diarak sejauh 2,5 kilometer mengelilingi kampung dengan iringan gamelan tradisional tongtek. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, tersimpan pesan leluhur yang kian langka: "Jodone Ngandang".

Lebih Dari Sekadar Arak-arakan: Sebuah Filosofi Cinta

img_title Pelaku Tambang Ilegal di Pancur Terancam Pidana, ESDM Soroti Ancaman Rusaknya Cadangan Air

Petinggi Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, menekankan bahwa esensi Jondang terletak pada maknanya sebagai simbol persatuan. "Jondang" berasal dari frasa "Jodone Ngandang" (pasangan yang saling memandang), yang merepresentasikan tahapan sakral dalam adat pernikahan Jawa, mulai dari lamaran hingga ijab kabul. sejak pagi kemarin (23/04).

"Dahulu, setiap rumah tangga Jawa pasti memiliki jondang. Benda ini adalah saksi bisu penyatuan dua insan. Saat seorang pemuda melamar, ia membawa jondang berisi hasil bumi terbaik sebagai tanda keseriusan dan kemampuan menghidupi," ujar Eko dengan nada haru. Ia khawatir, jika tidak dilestarikan secara intensif, generasi mendatang hanya akan mengenal jondang sebagai benda mati di museum, kehilangan roh filosofinya sebagai pembawa pesan cinta dan tanggung jawab.

img_title Bupati Witiarso Usulkan APBD 2027 Rp2,5 Triliun, Lima Isu Strategis Jadi Prioritas

Dalam prosesi ini, isi jondang berupa umbi-umbian, buah-buahan, dan sayuran bukan sekadar komoditas, melainkan simbol rasa syukur (syukuran bumi) kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang dilimpahkan, serta doa agar kehidupan berumah tangga kelak subur dan sejahtera seperti tanah yang mereka pijak.

Upaya Pelestarian di Tengah Arus Globalisasi

Disparbud Kabupaten Jepara menilai Tradisi Jondang sebagai mutiara budaya yang layak dijaga kemurniannya. Kepala Disparbud Jepara, Ali Hidayat, menyatakan bahwa pelestarian budaya takbenda seperti ini jauh lebih sulit dibandingkan membangun infrastruktur fisik, karena menyangkut kesadaran kolektif masyarakat.

"Kami bangga melihat bagaimana warga Desa Kawak masih memegang teguh adat nguri-uri budaya. Ini adalah benteng moral kita. Jika tradisi lamaran dengan jondang ini hilang, maka hilang pula satu bab penting dari sejarah sosial masyarakat Jawa," tegas Ali.

Halaman Selanjutnya
img_title