Pohon Winong Jadi Rebutan, Lakon Uwit Sentil Kerusakan Alam
- Vivajogja
VIVAJogja – JEPARA, Pertunjukan Thongprak lakon Uwit di Desa Sukosono, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Sabtu malam (9/5/2026), mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta memperkuat nilai persatuan melalui seni tradisi rakyat.
Pementasan yang dibawakan Komunitas Baress tersebut mengisahkan Bordi, seorang pencari kayu yang berkeliling desa untuk membeli pohon-pohon berukuran besar sebagai bahan mebel. Salah satu yang menjadi incarannya ialah pohon winong di tanah desa (10/05).
Keinginan itu ditentang Kang No, pedagang kopi keliling yang diperankan Rhobi Shani. Ia menilai pohon winong memiliki peran penting bagi kehidupan warga karena berada di sekitar sumber mata air yang mengairi area persawahan.
Melalui dialog berbahasa Jawa yang diselingi humor khas rakyat, lakon tersebut menyoroti dampak kerusakan alam akibat penebangan pohon secara sembarangan. Kang No mengingatkan bahwa berbagai bencana banjir yang terjadi di sejumlah daerah tidak lepas dari berkurangnya pohon besar di kawasan hutan maupun lingkungan permukiman.
Pesan tentang pentingnya reboisasi juga disampaikan dalam pertunjukan itu. Penebangan pohon, menurut Kang No, harus diimbangi penanaman kembali agar keseimbangan alam tetap terjaga dan sumber air tidak mengering.
Konflik antara kepentingan ekonomi dan upaya mempertahankan kelestarian alam menjadi inti cerita dalam lakon Uwit. Nilai tersebut diperkuat dengan penggambaran pohon besar sebagai simbol pengayom sekaligus penyangga kehidupan masyarakat.
Pementasan turut menyisipkan pesan kebangsaan melalui penghayatan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Kang No menjelaskan filosofi pohon beringin sebagai lambang persatuan dengan akar yang kokoh menopang kehidupan bersama.
Suasana semakin hidup ketika seluruh penonton diajak menyanyikan lagu Garuda Pancasila diiringi musik thongthek. Interaksi para pemain dengan penonton membuat pertunjukan berlangsung hangat dan akrab hingga akhir acara.
Penampilan pelawak Amin Sururi dan Sugiyarto turut menghadirkan suasana penuh gelak tawa melalui lawakan khas Emprak yang menghibur penonton sepanjang pementasan berlangsung.
Moden Desa Sukosono, Muhammad Sholeh, mengajak warga menjaga warisan leluhur berupa sumber mata air dengan merawat lingkungan sekitar, khususnya tidak menebang pohon di area resapan air.