“Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” Sebuah Ode tentang Ingatan, Keluarga, dan Kehangatan yang Tak Pernah Usai

Adegan Film “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”
Sumber :
  • Istimewa

 

img_title Harganas ke-33 di Yogyakarta: Sinergi Keluarga, Pemerintah, dan Masa Depan Bangsa

VIVA Jogja - Film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan bukan sekadar drama keluarga yang hadir di layar bioskop. Ia menjelma menjadi sebuah peristiwa budaya, sebuah ruang di mana penonton diajak menengok kembali arti kebersamaan, memori, dan kasih sayang yang sering kali luput dari perhatian sehari-hari.

Disutradarai oleh Kuntz Agus dan ditulis oleh Alim Sudio, film ini menghadirkan Lulu Tobing, Yasmin Napper, dan Ibnu Jamil dalam kisah yang menyentuh hati, mengingatkan bahwa kehilangan terbesar bukanlah benda atau kesempatan, melainkan memori yang perlahan memudar.

img_title Pelukan Cerita di Balik Layar: “Jangan Buang Ibu” dan Perjalanan Gala Premiere ke 20 Kota

Sejak diumumkan akan tayang perdana pada 13 Mei 2026, publik langsung antusiasme. Bahkan sebelum tanggal resmi itu tiba, Rapi Films bersama Screenplay Films dan Vortera Studios menggelar program Nonton Duluan di 40 kota, dari Sabang hingga Merauke. Selama dua hari, 9 dan 10 Mei, terasuk di Yogyakarta pada Minggu (10/05/2026), penonton tampak memenuhi bangku bioskop CGV.

Film ini telah menyentuh rasa penasaran sekaligus kerinduan masyarakat akan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Kisah yang diangkat memang sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Kesha, seorang mahasiswi film yang tengah menapaki jalan menuju kemandirian, harus berhadapan dengan kenyataan pahit: sang ibu, Yuke Yolanda, mulai kehilangan ingatan akibat Alzheimer. Yuke bukan hanya seorang ibu, ia juga guru yang dicintai murid-muridnya, sosok yang menjadi pusat kehangatan keluarga. Namun perlahan, ia lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan menuju sekolah, bahkan lupa hal-hal penting tentang anak-anaknya. Rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi ruang penuh kecemasan. Kesha pun dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mengejar mimpi atau pulang demi menjaga agar dirinya tidak hilang dari hati ibunya.

img_title Film Joko Anwar “Ghost in the Cell” Tembus 86 Negara Sebelum Rilis di Indonesia

Adegan-adegan dalam film ini berhasil memancing tangis haru penonton. Banyak yang keluar dari bioskop dengan mata sembab, membawa pulang bukan hanya kesedihan, tetapi juga kesadaran baru. Seorang penonton bahkan berkata, “Rasanya habis nonton film ini aku mau peluk mama papa seerat mungkin. Aku jadi teringat kenangan masa kecilku, semoga kenangan ini nggak akan pernah hilang.” Testimoni semacam itu menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman emosional yang menggerakkan.

Halaman Selanjutnya
img_title