MR.D.I.Y. Art Competition 2026: Ruang Intensitas, Pertumbuhan, dan Ketahanan Seniman Indonesia
- jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani
BANTUL, VIVA Jogja - Gelombang kreativitas kembali mengalir di Indonesia dengan hadirnya MR.D.I.Y. Art Competition 2026, sebuah ajang yang bukan hanya sekadar lomba seni, melainkan arena penting bagi seniman untuk menyalurkan intensitas, menguji ketahanan, dan memperluas eksposur karya mereka di panggung Asia Tenggara. Setelah keberhasilan besar pada tahun 2025, ketika seniman Indonesia berhasil menembus dan memenangkan kompetisi regional, tahun ini Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan tingkat regional, mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam satu panggung yang lebih luas.
Pendaftaran kompetisi nasional dibuka mulai 1 April hingga 30 Juni 2026, dengan tema “Strength and Resilience”. Tema ini mencerminkan semangat masyarakat untuk beradaptasi dan bertahan di tengah tantangan zaman, sekaligus menjadi wadah bagi seniman untuk menyalurkan intensitas emosional melalui karya. Kompetisi ini terbagi dalam dua fase: nasional dan regional. Pemenang nasional akan diumumkan pada 12 Agustus 2026, dan mereka yang terpilih dari kategori umum serta pelajar akan melanjutkan langkah ke tingkat regional. Hadiah yang ditawarkan mencapai total Rp370.000.000, menjadi simbol penghargaan atas dedikasi dan kerja keras para seniman.
Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah dalam keterangan tertulisanya menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari sisi bisnis, tetapi juga dari kontribusi sosial. “Melalui MR.D.I.Y. Art Competition, kami ingin menghadirkan ruang bagi potensi anak bangsa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membuka kesempatan bagi seniman tanah air untuk dikenal lebih luas di kancah internasional,” ujarnya. Panel juri yang terdiri dari R.E. Hartanto, Mitha Budhyarto, Abigail Hakim, serta Edwin Cheah memastikan bahwa karya dinilai dengan standar tinggi, meliputi kreativitas, orisinalitas, kualitas artistik, dan pesan yang disampaikan.
Sementara itu saat berbincang dengan media di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Senin (18/05/2026) Giri Nugroho, selaku mentor seni, menekankan pentingnya arena kompetisi sebagai ruang pertumbuhan. Menurutnya, kompetisi adalah tempat di mana seniman bisa mencurahkan intensitas karya tanpa harus terjebak pada ekspektasi hasil. “Arena itu penting karena di sanalah kita bertumbuh. Karya yang dibuat dengan intensitas penuh akan selalu memiliki nilai, meski hasil akhirnya di luar kendali kita. Kompetisi adalah ruang belajar, introspeksi, dan kesempatan untuk naik kelas,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa seni rupa, seperti halnya seni pertunjukan, membutuhkan intensitas yang kuat agar karya benar-benar hidup. “Intensitas itu adalah energi yang membuat karya berbicara. Tanpa intensitas, karya hanya menjadi bentuk kosong,” tegasnya.