Children of Heaven Versi Indonesia: Hanung Bramantyo, Pesan Karakter, dan Dukungan Muhammadiyah untuk Generasi Muda

Hanung Bramantyo
Sumber :
  • jogja.viva.co,id/ Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Film Children of Heaven hadir dengan wajah baru di Indonesia, digarap oleh Hanung Bramantyo bersama MD Pictures. Adaptasi dari karya Iran yang pernah masuk nominasi Academy Awards 1997 ini menampilkan Semarang era 1980-an sebagai latar yang autentik, penuh detail, dan sarat nuansa nostalgia. Hanung menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar memindahkan cerita, melainkan menghadirkan kembali ruh film aslinya dengan konteks lokal yang relevan bagi penonton Indonesia.

img_title Film Kartini Diputar di Museum Nasional, Hanung Soroti Warisan Ekonomi Sang Pahlawan

Hanung menuturkan bahwa ia ingin menghindari jebakan menjadikan kesedihan sebagai komoditas utama. Menurutnya, film ini bukan tentang air mata yang dipaksa, melainkan tentang perjuangan anak-anak yang sederhana namun penuh makna. “Saya ingin penonton merasakan kejujuran emosi, bukan karena mereka digiring untuk menangis, tetapi karena mereka larut dalam perjuangan Ali dan Zahra,” ungkapnya, dalam Special Screening “Children of Heaven” di XXI Empire Yogyakarta, Rabu (20/05/2026).

Pendekatan ini membuat film tampil jujur, hangat, dan reflektif, menghadirkan drama keluarga yang menyentuh hati. Kisah yang berpusat pada Ali, bocah berusia 13 tahun, dan Zahra, adiknya yang berusia 9 tahun ini, nyata-nyata memaparkan kehidupan dalam keterbatasan bersama sang ayah Karim dan Fatimah, ibunya yang dalam kondisi sakit.

img_title Haedar Nashir: Pendidikan Holistik Muhammadiyah Sapen Universal School Jadi Tonggak Transformasi Nasional

Konflik sederhana muncul ketika Ali kehilangan sepatu Zahra di sebuah toko sembako. Sepatu itu adalah satu-satunya milik Zahra, dan kehilangan tersebut menjadi awal dari perjalanan penuh rahasia, rasa malu, dan usaha menutupi beban keluarga. Ali dan Zahra kemudian sepakat bergantian memakai sepatu lusuh milik Ali. Dari kesepakatan kecil ini lahir cerita besar tentang tanggung jawab, empati, dan pengorbanan.

Hanung menekankan bahwa detail visual menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer. Adegan pembuka dengan teknik one take yang mengelilingi pasar tradisional adalah bukti keseriusan tim produksi. “Saya ingin penonton merasakan Semarang era 1980-an bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai bagian dari cerita. Pasar, lorong, rumah sederhana—semuanya harus hidup,” jelasnya. Dengan pendekatan ini, Semarang bukan sekadar dekorasi, melainkan karakter yang turut menghidupkan narasi.

img_title Dosen UMY Dampingi Semoyo Wujudkan Desa Wisata Herbal Berkelanjutan

Adegan klimaks terjadi saat lomba lari sekolah yang menawarkan hadiah sepatu untuk juara tiga. Ali bertekad mengikuti lomba demi mendapatkan sepatu baru untuk Zahra. Hanung menyebut momen ini sebagai simbol perjuangan yang lebih besar dari sekadar menang atau kalah. “Perjuangan Ali adalah cermin bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan. Kadang ia memberi sesuatu yang lebih bermakna, meski tidak sesuai harapan,” katanya. Pesan ini menjadi inti film, mengingatkan penonton bahwa nilai perjuangan sering kali lebih berharga daripada hasil akhir.

Halaman Selanjutnya
img_title