Special Screening “Badut Gendong” di Yogyakarta, Horor Berkelas yang Menyulam Tradisi dan Teror
- Dok jogja.viva.co.id
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Sosok badut yang biasanya identik dengan hiburan anak-anak, dalam film “Badut Gendong” justru menjelma menjadi simbol kengerian yang membekas. Film garapan sutradara Charles Gozali bersama penulis Asaf Antariksa dan Dharma Putra ini akan tayang di bioskop mulai 20 Mei 2026, dengan momentum istimewa berupa special screening di Yogyakarta pada Rabu, (20/05/2026). Kehadiran acara ini bukan sekadar pemutaran film, melainkan sebuah perayaan seni yang mempertemukan karya sinema dengan publik yang haus akan tontonan berkualitas.
Film “Badut Gendong” mengangkat kisah tragis seorang pengamen badut bernama Darso yang diperankan Marthino Lio. Hidupnya penuh perjuangan, namun harapan untuk masa depan sirna ketika istrinya, Darsi, yang tengah mengandung, menjadi korban kebrutalan preman. Tragedi itu membuat Darso membawa jasad sang istri dalam boneka badutnya, sebuah simbol yang mengerikan sekaligus menyayat hati. Kepulangan Darso ke kampung halaman tidak membawa ketenangan, melainkan membuka babak baru yang lebih mencekam. Ia mendapati desanya dilanda kekacauan akibat ulah developer jahat, sementara dirinya tanpa sadar terperangkap dalam kuasa gelap yang mengintai. Kutukan yang membayangi membuat batas antara dunia nyata dan dunia gaib semakin kabur, menghadirkan horor yang bukan hanya visual, tetapi juga psikologis.
Selain Marthino Lio, film ini juga diperkuat oleh Clara Bernadeth, Derby Romero, Dayinta Melira, dan sederet aktor lain yang menghadirkan dinamika cerita penuh konflik sosial, tragedi keluarga, dan teror supranatural. Kehadiran mereka memperkuat narasi yang menekankan bahwa horor sejati lahir dari pengalaman manusia yang paling dalam: kehilangan, dendam, dan rasa putus asa. Film ini tidak hanya menampilkan ketegangan, tetapi juga menyuguhkan simbolisme yang kaya, menjadikan Badut Gendong sebagai horor berkelas dengan lapisan makna yang mendalam.
Inspirasi karakter Badut Gendong sendiri lahir dari pengalaman Charles Gozali ketika menyaksikan sebuah permainan budaya tradisional di Solo pada 2011. Ia melihat seorang laki-laki mengenakan kostum boneka yang ditarik ke depan sehingga tampak seperti menggendong, sementara tubuhnya membungkuk ke belakang. Adegan itu meninggalkan kesan mendalam dan kemudian diolah menjadi entitas horor baru dalam semesta film Kodrat. Dari sebuah permainan tradisional yang tampak lucu, lahirlah sosok menyeramkan yang kini menjelma menjadi figur horor di layar lebar. Transformasi ini menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi horor modern yang relevan dengan penonton masa kini.