Monster Pabrik Rambut: Horor yang Menyulam Realitas Kerja dan Misteri Keluarga
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Film Monster Pabrik Rambut karya Edwin bukan hanya menghadirkan horor dengan efek praktikal yang jarang digunakan di Indonesia, tetapi juga menjadi wadah bagi para pemain untuk menyampaikan pengalaman, refleksi, dan pandangan mereka tentang dunia kerja serta proses kreatif di balik layar. Diproduksi Palari Films dan tayang 4 Juni 2026, film ini mengisahkan tiga kakak beradik, Putri (Risha Lamadja), Ida (Lutesha), dan Bona (Iqbaal Ramadhan), yang harus menggantikan sang ibu bekerja di pabrik setelah kematiannya yang misterius.
Risha Lamadja menuturkan bahwa perannya sebagai Putri membuatnya lebih memahami beban pekerja kerah biru. “Putri adalah anak sulung yang harus memikul tanggung jawab besar setelah ibunya meninggal. Ada rasa kehilangan, tapi juga kewajiban untuk menjaga adik-adiknya. Saya merasa karakter ini sangat dekat dengan realitas banyak keluarga di Indonesia,” ujarnya saat menggelar jumpa pers di Yogyakarta, Kamis (21/05/2026).
Ia menambahkan bahwa meski film ini penuh ketegangan, proses syuting justru menyenangkan. “Syutingnya seru, apalagi bersama teman-teman yang energinya luar biasa. Kev selalu bikin suasana hidup, meski ceritanya gelap.”
Lutesha, yang berperan sebagai Ida, mengaku tantangan terbesar adalah beradaptasi dengan efek praktikal. “Kami tidak berhadapan dengan layar hijau, tapi monster yang benar-benar ada di depan mata. Rambutnya asli, prostetiknya nyata, jadi kami harus terbiasa dengan suasana pabrik yang penuh debu dan rambut berterbangan. Itu membuat akting terasa lebih intens,” katanya. Ia menilai pengalaman ini berbeda dari film horor lain yang lebih banyak mengandalkan CGI. “Justru dengan efek praktikal, kami bisa merasakan langsung atmosfer horor. Itu membuat akting lebih jujur.”
Iqbaal Ramadhan, selain berperan sebagai Bona, juga terlibat sebagai eksekutif produser. Ia menekankan bahwa film ini bukan sekadar horor, melainkan kritik terhadap sistem kerja. “Pabrik memang punya SOP keselamatan, tapi sering kali tidak dijalankan. Demi efisiensi waktu, pekerja jadi korban. Lewat film ini saya belajar bahwa kecelakaan kerja tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada pekerja. Banyak yang tidak punya pilihan lain,” ujarnya. Meski memikul tanggung jawab ganda, ia mengaku tidak merasa terbebani. “Saya senang tergabung dalam ensemble luar biasa ini. Bersama Edwin, Eka Kurniawan, dan tim Palari, kami ingin menghadirkan horor yang berbeda di layar bioskop Indonesia.”