Elang Jawa: Komik Ksatria Nusantara yang Menembus Pasar Eropa
- Dok Pemkab Bantul
VIVA Jogja - Di tengah dominasi kisah ksatria Barat seperti King Richard dan King Arthur, serta epik Asia seperti Three Kingdoms dan Samurai, sebuah komik berjudul Elang Jawa hadir membawa warna baru. Karya kolaborasi Apri Kusbiantoro dan Fajar Nugros ini mengangkat kisah kesatria dari Nusantara, terinspirasi dari sejarah Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memisahkan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Menariknya, komik ini justru lebih dulu dikenal di Eropa sebelum populer di tanah air.
Komik Elang Jawa pertama kali diterbitkan di Belanda melalui majalah strip Eppo, kemudian dilanjutkan di Jerman oleh penerbit Zack. Keunikan lain adalah judulnya yang tidak diterjemahkan ke bahasa lain, tetap menggunakan nama asli “Elang Jawa”. Hal ini menunjukkan bahwa identitas lokal yang kuat justru menjadi daya tarik bagi pembaca mancanegara. “Penerbit mana pun tidak mengubah judulnya, tetap dengan nama Elang Jawa,” jelas Apri.
Respons positif dari pembaca Eropa membuat penerbit meminta agar seri ini dilanjutkan. Padahal awalnya Apri dan Nugros hanya berencana membuat satu seri tamat. Sejak akhir 2025, Apri mulai mengerjakan episode kedua, menandai perjalanan baru bagi komik Nusantara di panggung internasional.
Sebelum dikenal lewat Elang Jawa, Apri telah meniti karier internasional di industri komik Amerika sejak 2011. Ia bergabung dengan platform Digital Webbing dan mulai mengerjakan proyek bersama penulis Amerika, termasuk komik tentang George Carlin, The Three Stooges, hingga Radio Gaga. Kariernya kemudian berkembang ke pasar Eropa dengan judul-judul seperti Lemuria, Saul, dan Storm.
Meski aktif di luar negeri, Apri tetap menghadirkan karya yang berakar pada budaya Indonesia. Ia pernah menggarap komik Mahabharata dengan sentuhan lokal, melanjutkan komik legendaris Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH, serta membuat komik sisipan Pak Janggut di Majalah Bobo. Baginya, komik bukan sekadar gambar di atas kertas, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari naskah, storyboard, ilustrasi, hingga proses editing sebelum akhirnya lahir sebagai karya utuh.
Apri menilai industri komik Indonesia kini mulai bangkit setelah sempat redup sejak era kejayaan komik lokal pada 1960–1980-an. Tantangan terbesar menurutnya adalah menjaga konsistensi karya agar pembaca tidak kehilangan kesinambungan. “Ketika kita mendapat sambutan baik, kita harus menjawab dengan konsistensi karya,” pesannya.