Film Dokumenter, Menyuarakan Realitas dan Memantik Ruang Publik

Film dokumenter Pesta Babi,
Sumber :
  • Istimewa

img_title Kasus Nadhif Basalamah Jadi Cermin Pentingnya Etika Digital

VIVA Jogja - Film dokumenter kembali menjadi sorotan publik setelah kemunculan Pesta Babi, sebuah karya yang mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua. Film ini tidak hanya merekam realitas, tetapi juga membuka ruang diskusi yang luas di berbagai kalangan. Fenomena nonton bareng yang muncul di sejumlah tempat menunjukkan bagaimana dokumenter mampu mencuri perhatian sekaligus memicu beragam reaksi sosial dan politik.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Dr. Budi Irawanto, menegaskan bahwa film dokumenter memiliki karakter berbeda dengan sekadar dokumentasi biasa. Dokumenter, menurutnya, berangkat dari realitas namun tetap melibatkan perlakuan kreatif dari pembuat film. “Film dokumenter itu basisnya pada realitas atau aktualitas, tetapi juga ada perlakuan kreatif terhadap film itu. Ada editing, ditambahkan musik, dan berbagai elemen lain,” ujarnya, Jumat (05/06/2026).

img_title Spanduk Permohonan Maaf di Bundaran UGM Picu Polemik, Kampus Tegaskan Identitas Dicatut

Ia menjelaskan bahwa dokumenter selalu mengajukan klaim kebenaran yang didasarkan pada estetika realitas. Meski menggunakan teknik kreatif, muatan yang disampaikan tetap berangkat dari fakta, bukan imajinasi semata. Dokumenter, kata Budi, memiliki kemampuan untuk mengangkat persoalan sosial, politik, dan kultural yang sering kali luput dari perhatian media arus utama.

Kekuatan dokumenter tidak hanya terletak pada penyampaian fakta, tetapi juga pada kemampuannya menyentuh aspek emosional penonton. Melalui gambar, suara, musik, dan ekspresi subjek, dokumenter menghadirkan pengalaman afektif yang membuat audiens tidak sekadar berpikir rasional, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan isu yang ditampilkan. Film Pesta Babi misalnya, menampilkan kondisi lingkungan, ekspansi proyek pembangunan, serta kehidupan masyarakat Papua yang jarang terekspos dalam pemberitaan sehari-hari. “Berita Papua itu tidak cukup banyak di media kita karena masih Jawa-sentris. Informasi yang dibawa film ini menjadi sesuatu yang bagi publik jarang ditemukan di media arus utama,” jelasnya.

img_title Matahari dari Tiganderket: Warisan Masri Singarimbun Hidup Kembali Lewat Film Dokumenter

Budi menilai dokumenter mampu menghadirkan wajah-wajah nyata, ekspresi kekecewaan, ketakutan, dan kecemasan masyarakat yang terdampak persoalan tertentu. Teknik pengambilan gambar seperti close up membuat penonton merasa dekat dengan subjek yang ditonton. Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa kekuatan utama dokumenter justru muncul setelah pemutaran selesai. Diskusi yang menyertai pemutaran film menjadi ruang publik untuk memaknai pesan dan memperluas ide. “Misal di Pesta Babi ada simbol salib merah, kenapa warnanya merah dan lain-lain. Dengan adanya diskusi orang menjadi lebih tahu. Ini yang sebenarnya disebut dengan ruang publik,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title