Festival Ketoprak HUT ke-79 Pemkot Yogyakarta, Panggung Regenerasi Seni Tradisi di Kota Budaya
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Yogyakarta kembali menegaskan jati dirinya sebagai kota budaya melalui penyelenggaraan Festival Ketoprak Tingkat Kota Yogyakarta 2026 yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Umbulharjo. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-79 Pemerintah Kota Yogyakarta, sekaligus wujud nyata komitmen pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan seni tradisi yang menjadi akar kehidupan masyarakat.
Festival dibuka secara resmi oleh Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, didampingi Wakil Wali Kota, Wawan Harmawan. Dalam sambutannya, Hasto menegaskan bahwa ketoprak bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan ruang ekspresi yang merefleksikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa. “Festival ini bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang terbaik, tetapi merupakan ruang belajar bersama, ruang apresiasi, ruang regenerasi, dan ruang penguatan ekosistem seni tradisi yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut Hasto, festival ketoprak memiliki tujuan strategis untuk memperkuat karakteristik ketoprak konvensional sebagai seni peran yang menitikberatkan pada kualitas keaktoran. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan bagi para pelaku seni agar mampu mempertahankan identitas Ketoprak Mataram sebagai ekspresi budaya yang khas. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi wadah regenerasi bagi seniman muda agar seni tradisi tidak kehilangan relevansinya di tengah arus modernisasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa festival ketoprak merupakan bagian dari program Gelar Budaya Jogja yang bertujuan mendorong lahirnya karya-karya kreatif dari para seniman lokal. “Melalui kegiatan ini, kami berharap seni tradisi, khususnya ketoprak, dapat terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini maupun masa mendatang,” ungkapnya.
Yetti menambahkan bahwa festival tahun ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga sarana penguatan ketahanan budaya masyarakat. “Ketoprak dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis,” katanya.
Festival Ketoprak 2026 mengangkat tema besar “Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti”, yang mengajak peserta mengeksplorasi berbagai peristiwa sejarah setelah Perjanjian Giyanti hingga sebelum Geger Sepehi. Tema ini mencakup kehidupan dan peradaban Mataram pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga Sri Sultan Hamengkubuwono II, termasuk kisah Babat Alas Pabringan yang sarat nilai filosofis dan moral.