Diskusi dan Pameran Seni “Rimpang Rasa” dari Kekecewaan sampai Kritik terhadap Yogya sebagai Pusat Pergerakan Seni Rupa

Suasana sesi diskusi seni "Rimpang Rasa" dengan pembicara Daniel Ginting, Ugo Untoro dan Rizki A. Zaelani yang dipandu Jumaldi Alfi di Kiniko Gallery
Sumber :
  • Istimewa

 

img_title MR.D.I.Y. Art Competition 2026: Ruang Intensitas, Pertumbuhan, dan Ketahanan Seniman Indonesia

YOGYAKARTA, VIVA Jogja -  Bertempat di Kiniko galeri Yogyakarta, dalam rangkaian pameran Seni Rupa Rimpang Rasa, Narasi Rawan. Sahaja: Kala Rupa Bersua” digelar diskusi seni sebelum pameran secara resmi dibuka. Diskusi yang cukup penuh kritik atas posisi peran kolektor, seniman, karya seni, sejarah seni rupa Indonesia sampai representasi museum seni, sekaligus mempertanyakan secara tegas posisi Yogyakarta yang katanya sebagai pusat pergerakan seni.

Hadir sebagai pembicara seniman Ugo Untoro, Kolektor seni Daniel Ginting dan Kurator seni  Rizky A. Zaeleni, dan dipandu oleh seniman Jumaldi Alfi. Diskusi yang semula membicarakan tentang  keyakinan bahwasanya tidak ada karya seni yang lahir secara terpisah dari karya-karya yang mendahuluinya.

img_title Seniman Jogja Hadirkan Kebahagiaan Lewat Pameran “Orang-Orang Bahagia”

Sedangkan penyelenggaraan pameran digagas dengan mengajak para seniman untuk merespons karya yang telah ada melalui ekspresi artistik baru, sehingga tercipta percakapan imajiner yang melintasi ruang dan waktu, menjadi menarik dikaitkan dengan respon realita perkembangan seni rupa saat ini.

Rizki A. Zaelani  sebagai kurator pameran, berbicara menyoroti tentang pameran yang digagas bersama Ginting Institute, Zen 1 Gallery dan Kiniko Gallery ingin mengungkapkan momen ketika rupa bersua, dengan maksud bahwa ketika sebuah karya berdampingan dengan karya tanggapannya, akan membuka kemungkinan lahirnya makna, tafsir, dan penciptaan baru.

img_title Lelaku Neges Serah Sareh, Saat Spiritualitas dan Audiens Bertemu Dalam Karya Seni

Lebih lanjut menurut kurator asal Bandung, bahwa pameran ini tidak berupaya menempatkan karya dalam hirarki nilai tertentu ataupun membatasi pemahaman seni pada satu kerangka teoritis. Sebaliknya, pameran ini menegaskan bahwa seni, seniman, dan karya seni merupakan bagian dari sebuah semesta penciptaan yang terus bergerak, berkembang, dan saling menghidupkan.

Melalui pertemuan antara karya yang telah ada dan karya yang akan ada, pameran ini mengajak publik untuk melihat bahwa setiap karya seni adalah jejak keberadaan sekaligus ruang terbuka bagi pengalaman dan penafsiran yang terus berubah.

Dalam perspektif ini, karya seni tidak hanya dipahami sebagai obyek material atau artefak budaya, melainkan sebagai manifestasi hubungan antara manusia, nilai-nilai etis, lingkungan sosial-budaya, dan alam semesta tempat kehidupan berlangsung.

“Kala Rupa Bersua” juga menjadi kesempatan untuk menimbang kembali pemahaman umum tentang seni. Jika selama ini kualitas karya sering kali dilekatkan semata-mata pada penguasaan pengetahuan oleh seorang seniman, pameran ini justru menghadirkan ruang yang memungkinkan karya berbicara melalui kehadirannya sendiri. Sebuah karya dapat menyapa, menginspirasi, dan menghidupkan penciptaan berikutnya tanpa harus dibatasi oleh penjelasan konseptual yang kaku.

Halaman Selanjutnya
img_title