Daftar Ulang SPMB SMP Dibuka, Dinas Pendidikan Karanganyar Waspadai Kursi Kosong Akibat Pendaftar Ganda
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, mewanti-wanti potensi munculnya kursi kosong di sejumlah SMP negeri seiring dimulainya proses daftar ulang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 pada 29-30 Juni 2026.
Kondisi itu diperkirakan terjadi karena sebagian calon siswa mendaftar di lebih dari satu sekolah sehingga tidak seluruh peserta yang lolos seleksi melakukan daftar ulang.
Hendro mengatakan, masa daftar ulang menjadi tahapan penting untuk mengetahui jumlah riil peserta didik yang benar-benar memilih sekolah tujuan.
Sebab, sebagian calon siswa diketahui mendaftar di lebih dari satu sekolah dan hanya akan melakukan daftar ulang di sekolah yang dipilih.
"Masih ada kemungkinan kursi kosong karena ada siswa yang mendaftar di dua sekolah. Ketika diterima di sekolah lain, mereka tidak melakukan daftar ulang sehingga kuota menjadi kosong," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar akan membuka pendaftaran secara offline setelah proses daftar ulang berlangsung.
Langkah ini dilakukan agar kursi yang kosong dapat segera terisi oleh calon siswa yang belum memperoleh sekolah.
Menurut Hendro, hasil pemetaan sementara menunjukkan masih ada sekitar tiga SMP negeri di wilayah Kecamatan Jatipuro dan Jumantono yang belum memenuhi kapasitas rombongan belajar (rombel).
Meski demikian, ia menegaskan tidak ada sekolah yang sama sekali tanpa pendaftar. Jumlah peserta didik di sekolah-sekolah tersebut hanya belum mencapai kuota maksimal.
"Dalam satu rombel SMP idealnya berisi 32 siswa. Ada sekolah yang saat ini baru terisi sekitar 25 hingga 30 siswa, sehingga masih ada kekurangan yang akan kami optimalkan melalui pendaftaran offline," katanya.
Ia menjelaskan, evaluasi jumlah peserta didik baru akan dilakukan setelah seluruh proses daftar ulang selesai.
Pasalnya, selain ada kemungkinan pengurangan siswa akibat tidak melakukan daftar ulang, masih terbuka peluang penambahan peserta melalui mekanisme pendaftaran offline.
Sementara itu, Hendro mengungkapkan tantangan yang lebih besar justru terjadi di jenjang SD.
Sejumlah sekolah dasar masih mencatat jumlah peserta didik baru yang sangat minim, bahkan ada sekolah yang hingga kini baru memperoleh sekitar empat siswa.