Kelola 25 Destinasi di Tiga Provinsi, The Lawu Group Menjelma Jadi Raksasa Wisata Regional

Kelola 25 Destinasi, The Lawu Group Menjelma Jadi Raksasa Wisata Regional, Sabet Penghargaan Impactful Tourism Management
Sumber :
  • Ist/VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Berawal dari mengelola destinasi wisata di kawasan lereng Gunung Lawu, The Lawu Group kini melangkah ke panggung yang lebih besar. 

img_title Ratusan Motor Berknalpot Bising Ditindak di Karanganyar, Tak Bisa Langsung Diambil

Perusahaan asal Karanganyar itu dipercaya mengelola Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan Bromo, Jawa Timur, proyek pariwisata dengan nilai investasi sekitar Rp108,25 miliar yang mulai beroperasi pada pertengahan 2026.

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam ekspansi bisnis perusahaan setelah hampir satu dekade membangun jaringan destinasi wisata di berbagai daerah.

img_title Tinggal Menunggu Pulang Setelah 3 Tahun di Jepang, Pemuda Karanganyar Tewas Tenggelam

Kepercayaan mengelola salah satu ikon wisata Bromo menjadi bukti bahwa The Lawu Group tidak lagi sekadar dikenal sebagai operator destinasi lokal.

Hingga kini, perusahaan telah mengelola lebih dari 25 destinasi wisata di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan dukungan sekitar 500 karyawan yang tersebar di berbagai unit usaha.

img_title Dana Nasabah BMT Alfadinar Belum Dibayarkan, 350 Orang Datangi Polisi di Karanganyar

Bromo dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas nasional, kawasan tersebut memiliki daya tarik alam yang kuat sekaligus pasar wisatawan yang terus berkembang.

Bagi The Lawu Group, ekspansi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan bisnis dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur dengan membawa pengalaman pengelolaan destinasi yang telah dibangun sejak 2017.

Presiden Direktur The Lawu Group, Parmin Sastro, mengatakan perusahaan ingin menghadirkan pengelolaan destinasi yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.

"Kami ingin setiap destinasi yang kami kelola bertumbuh bersama masyarakat. Ketika wisata berkembang, UMKM ikut bergerak, lapangan kerja terbuka, dan budaya lokal tetap menjadi bagian dari pengalaman wisata. Semangat itulah yang kami jalankan melalui misi Growing Together," kata Parmin, Sabtu (18/7/2026). 

Menurut dia, keberhasilan sebuah destinasi tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah kawasan wisata mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Komitmen tersebut menjadi fondasi The Lawu Group dalam mengembangkan seluruh unit usahanya. Perusahaan memulai perjalanan pada 2017 melalui Sate Lawu, 

The Lawu Park, dan Sakura Hills di Tawangmangu. Dalam perkembangannya, lini bisnis terus meluas hingga mencakup sektor rekreasi, resort, restoran, serta pusat oleh-oleh yang saling terintegrasi dalam satu ekosistem pariwisata.

Halaman Selanjutnya
img_title