Keraton Solo Gelar Sekaten 2026, Grebeg Maulud Tetap Jadi Inti Tradisi
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar rangkaian Sekaten 2026 sebagai tradisi tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Perayaan yang berlangsung selama satu bulan penuh itu menjadi momentum bagi Keraton untuk terus menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa Sekaten tidak hanya identik dengan kemeriahan pasar malam.
Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi mengatakan seluruh rangkaian Sekaten merupakan bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun digelar Keraton Surakarta.
"Acara Grebeg Maulud, kita ikut memeriahkan Sekaten selama satu bulan penuh," ujar PB XIV Hangabehi saat menghadiri pembukaan rangkaian Sekaten di kawasan Alun-alun Utara Keraton Surakarta.
Pembukaan Sekaten turut dihadiri keluarga besar Keraton, para abdi dalem, tamu undangan, serta masyarakat. Vokalis D'Masiv, Rian Ekky Pradipta, juga tampak hadir mendampingi PB XIV Hangabehi meninjau kawasan Sekaten.
Bagi masyarakat, Sekaten selama ini dikenal melalui keramaian pasar malam yang menghadirkan beragam wahana permainan, kuliner, hingga aktivitas perdagangan. Namun, Keraton Surakarta menegaskan bahwa pasar malam hanyalah salah satu bagian dari rangkaian Sekaten, bukan inti dari tradisi tersebut.
Pangageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa Sekaten telah menjadi tradisi Keraton sejak berdirinya Kasunanan Surakarta. Karena itu, penyelenggaraannya tidak dapat dipisahkan dari nilai sejarah maupun filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Gusti Moeng, Alun-alun Utara sejak dahulu menjadi pusat pelaksanaan Sekaten. Kawasan tersebut memiliki makna historis sebagai ruang utama penyelenggaraan tradisi Keraton, termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui rangkaian Grebeg Maulud.
"Marwah Sekaten itu sendiri di Alun-alun Utara," kata Gusti Moeng.
Ia menjelaskan, Alun-alun Selatan memiliki filosofi dan fungsi yang berbeda. Meski kini kawasan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat maupun penyelenggaraan sejumlah acara, hal itu tidak mengubah posisi Alun-alun Utara sebagai pusat tradisi Sekaten.
Gusti Moeng menegaskan, Grebeg Maulud tetap menjadi bagian terpenting dalam Sekaten. Tanpa rangkaian tradisi tersebut, menurutnya, penyelenggaraan Sekaten hanya akan menjadi pasar malam biasa.