PGS Solo Resmi Tutup Permanen, 400 Pekerja Terancam Kehilangan Mata Pencaharian, Gedung Segera Dilelang
- Ist/VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Babak baru sejarah perdagangan modern di Kota Solo resmi dimulai. Pusat Grosir Solo (PGS), pusat perbelanjaan yang selama lebih dari dua dekade menjadi salah satu tujuan utama perdagangan tekstil dan fesyen, menghentikan operasionalnya secara permanen sejak Senin, 3 Agustus 2026.
Penutupan tersebut bukan dipicu oleh minimnya aktivitas perdagangan ataupun lesunya jumlah pengunjung semata.
Penyebab utamanya adalah status pailit yang menimpa PT Putera Griya Sentosa selaku pengelola gedung setelah diputus oleh Pengadilan Niaga Semarang.
Dengan putusan itu, seluruh aset perusahaan kini berada dalam penguasaan tim kurator untuk menjalani proses penyelesaian utang sesuai ketentuan hukum.
Pantauan di kawasan PGS pada Rabu (5/8) menunjukkan suasana yang jauh berbeda dibandingkan masa kejayaannya. Sebuah baliho besar terpasang di depan gedung, berisi pemberitahuan bahwa seluruh aset berada dalam sita umum dan telah diambil alih oleh tim kurator berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor 6/Pdt.Sus-PKPU/2025/PN.Niaga.Smg tertanggal 9 Februari 2026.
Kurator PT Putera Griya Sentosa, Bachtiar Ibnu Fadzil, menegaskan bahwa penutupan PGS tidak bisa disederhanakan sebagai akibat perubahan pola belanja masyarakat ke platform digital.
Menurutnya, perpindahan konsumen ke transaksi daring memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi pusat perbelanjaan. Namun, hal tersebut bukan alasan utama gedung itu berhenti beroperasi.
"Salah satu faktor itu bisa saja, tetapi bukan faktor utama. PGS ini dipailitkan melalui putusan Pengadilan Niaga. Artinya ada persoalan bisnis dan investasi yang menyebabkan perusahaan berada dalam kondisi pailit," ujar Bachtiar, pada wartawan, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, meskipun dalam satu tahun terakhir jumlah tenant mengalami penurunan cukup tajam, aktivitas perdagangan sebenarnya masih berlangsung.
Banyak pedagang tetap bertahan dengan memadukan penjualan secara langsung di toko dan melalui platform digital.
Data pengelola menunjukkan bahwa pada akhir 2025 masih terdapat sekitar 700 kios yang aktif beroperasi. Namun menjelang penutupan, jumlah tersebut menyusut drastis hingga hanya sekitar 60 kios yang masih bertahan.
Sebagian besar pedagang memilih pindah ke pusat perdagangan lain seperti Beteng Trade Center (BTC) maupun Pasar Klewer.