Jadi Guru Besar, Katno Hadi Dorong Ekonomi Soloraya Lewat Wisata Terintegrasi dan Siapkan Peternakan Sapi

Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Prof Dr H Katno Hadi
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Gelar profesor bagi Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Prof. Dr. H. Katno Hadi, tidak ingin berhenti sebagai pencapaian akademik. 

img_title BMT Dinar Mulia Karanganyar Digeledah Polisi, 128 Anggota Konfirmasi Persoalan Dana

Setelah dikukuhkan sebagai guru besar bidang bisnis dan ekonomi di Asian University International, Malaysia, ia justru menyiapkan sejumlah agenda yang menyentuh riset, pengembangan bisnis hingga pemberdayaan masyarakat.

Katno Hadi mengatakan, status guru besar membawa tanggung jawab akademik yang lebih besar. Selain menjalankan tugas sebagai dosen senior, ia juga dituntut aktif melakukan penelitian, menghasilkan publikasi ilmiah, membimbing mahasiswa hingga menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

img_title Kebakaran Putri Cempo Jadi Alarm, TPA Sukosari Disiram, Warga Terdampak Asap Dievakuasi

“Gelar itu harus bermanfaat. Tanggung jawabnya semakin berat, tetapi bagaimana kita menjalankannya,” ujar Katno Hadi, sesaat kedatangannya kembali ke tanah air dari Malaysia di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, Minggu (9/8/2026). 

Ia menjelaskan, pengukuhan sebagai guru besar tersebut berlangsung pada 4 Agustus 2026. Bidang yang menjadi fokusnya adalah bisnis dan ekonomi, sehingga pengalaman serta hasil riset yang selama ini dilakukan akan terus dikembangkan.

img_title Hari Kedua TPA Putri Cempo Masih Terbakar, Water Bombing Terkendala Tali Pengangkut Air Putus

Salah satu perhatian utamanya adalah potensi ekonomi di wilayah Soloraya. Katno mengaku telah melakukan penelitian mengenai perkembangan pariwisata di kawasan tersebut sejak menempuh pendidikan doktoral, termasuk melihat dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata.

Menurut dia, Soloraya memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui konsep integrated tourism atau pariwisata terintegrasi.

Konsep tersebut tidak hanya mengandalkan satu destinasi wisata, tetapi menghubungkan berbagai sektor pendukung, mulai dari UMKM, hotel, wisata edukasi, kuliner, pusat oleh-oleh hingga destinasi budaya dan alam.

“Potensi bisnis di Soloraya yang masih sangat bisa dikembangkan itu pariwisata. Konsepnya bagaimana wisata itu dibangun secara terintegrasi, di situ ada UMKM, hotel, wisata edukasi dan sektor pendukung lainnya,” katanya.

Katno menilai persoalan yang masih dihadapi Soloraya adalah konektivitas antardestinasi yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Wisatawan yang datang ke Solo, misalnya, dapat menikmati wisata budaya dan kuliner. Namun ketika ingin melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tawangmangu, Kemuning atau destinasi lain di wilayah sekitar, wisatawan masih harus mengatur perjalanan secara terpisah.

Padahal, menurut Katno, jika destinasi tersebut dikemas menjadi satu paket perjalanan, dampak ekonominya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title