Gunung Lawu Kehilangan Salah Satu Penjaganya, Mbok Yem Telah Tiada

Mbok Yem pemilik warung tertinggi di Jawa Telah Tiada
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Gunung Lawu tengah diselimuti duka. Sosok legendaris yang telah puluhan tahun setia menjaga puncaknya, Wakiyem atau lebih dikenal dengan Mbok Yem, wafat pada Rabu (23/4) di rumahnya yang berada di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan.

img_title Bus Pendaki Gunung Lawu Kecelakaan di Turunan Kemuning, Dugaan Gangguan Rem Masuk Penyelidikan Polisi

Kabar kepergiannya cepat menyebar di kalangan relawan dan komunitas pendaki di wilayah Soloraya.

Mbok Yem yang selama ini dikenal sebagai pemilik warung sederhana di sekitar puncak Lawu, menghembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit di Ponorogo, Jawa Timur. 

img_title Malam 1 Suro 2026, Kawasan Gunung Lawu Dipadati 2.474 Pengunjung, Pendakian Diawasi Ketat

Selama menjalani perawatan, para relawan dan pendaki juga banyak yang menjenguknya di rumah sakit untuk mendoakan dan memberi semangat. Meski terbata-bata karena sesak nafas, Mbok Yem tetap bersemangat.

Rencananya, almarhumah akan dimakamkan pada Kamis (24/4) di tempat peristirahatan terakhir di kampung halamannya.

img_title Tren Wellness Tourism Masuk Tawangmangu, Anaya Azana Tambah Kapasitas Villa hingga 44 Unit

Mbok Yem bukan sekadar penjaja makanan bagi para pendaki. Sejak tahun 1980-an, ia menetap di ketinggian lebih dari 3.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di dekat Puncak Hargo Dumilah, titik tertinggi Gunung Lawu. 

Di tempat ekstrem dengan suhu dingin menusuk tulang dan kabut yang kerap turun tebal, Mbok Yem tetap bertahan membuka warung mungil yang menyediakan makanan hangat seperti mie, nasi pecel, dan gorengan.

Keberadaannya menjadi penyejuk sekaligus penyemangat bagi para pendaki. Tak jarang, warung Mbok Yem menjadi tempat beristirahat, bahkan bermalam bagi mereka yang kelelahan atau sekadar ingin menghangatkan diri.

Meski tinggal jauh dari keramaian, Mbok Yem hanya sesekali turun ke desa, biasanya saat Lebaran. Kebutuhan warungnya dikirim secara rutin oleh orang kepercayaan, tiga kali dalam seminggu.

Bagi banyak pendaki, warung Mbok Yem ibarat "rumah kedua di atas awan". Suguhan sederhana seperti secangkir teh panas atau semangkuk mie telur terasa begitu istimewa setelah menempuh jalur pendakian yang melelahkan.

"Mbok Yem itu sosok yang sangat hangat dan selalu menyapa dengan senyum," ujar Rifan Feir Nandhi dari tim SAR Karanganyar Emergency. 

Rifan menambahkan sosoknya bukan hanya pemilik warung. Beliau adalah ibu sekaligus penyemangat, selalu mengingatkan makan, dan memberi bekal dan semangat dalam misi kemanusiaan.

Halaman Selanjutnya
img_title