Nasabah BMT Dinar Mulia Tuntut Pencairan Dana, Kantor Koperasi Kosong
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Sejumlah anggota BMT Dinar Mulia Karanganyar menggelar aksi unjuk rasa pada Senin (5/5/2025), menuntut kepastian pencairan dana simpanan mereka yang hingga kini belum bisa diakses.
Aksi tersebut berlangsung di kantor BMT yang berlokasi di Kelurahan Cangakan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.
Pantauan di lokasi menunjukkan massa mulai memadati halaman kantor sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka membawa berbagai poster berisi tuntutan serta keluhan, mendesak pengurus BMT memberikan jawaban atas lambannya pencairan dana.
Sebagian dari peserta aksi bahkan sempat masuk ke dalam gedung kantor dan menyerukan nama pemilik BMT, menuntut pertanggungjawaban. Namun saat itu, kantor tampak sepi tanpa aktivitas dari pihak pengelola.
Salah satu nasabah, Saifudin, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk upaya bersama untuk mendapatkan kejelasan. Menurutnya, ribuan anggota juga mengalami masalah serupa.
Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2023, jumlah simpanan anggota mencapai Rp32 miliar, namun hingga kini tidak ada kejelasan terkait keberadaan dana tersebut.
"Katanya ditahan selama dua tahun, tapi tidak ada landasan hukum yang jelas, tidak ada sertifikat atau transparansi aliran dana. Ini uang anggota, masa tidak tahu ke mana perginya?" ujar Saifudin.
Ia menambahkan, sejak tahun 2024, pengurus BMT sudah tidak lagi mengadakan RAT, yang menambah kekhawatiran anggota. Saat dimintai penjelasan, tanggung jawab justru dialihkan ke kuasa hukum yang dinilai tidak memberikan solusi, bahkan terkesan menakut-nakuti para nasabah.
"Harusnya Maret 2024 sudah RAT, tapi malah dialihkan ke advokat yang justru memperkeruh keadaan," tambahnya.
Karena tidak kunjung mendapat respons positif dari pengurus, sejumlah anggota akhirnya melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian pada Desember 2024.
Saifudin menegaskan, hingga saat ini belum ada upaya dari ketua pengurus untuk menemui atau berdialog dengan para anggota.
Sementara itu, Sumarmi, nasabah lainnya, menceritakan bahwa sejak September 2024 dirinya kesulitan menarik dana yang disimpan untuk kebutuhan pendidikan anaknya.
Ia mengaku menyimpan Rp111 juta di BMT, terdiri dari tabungan sebesar Rp11 juta dan simpanan berjangka Rp100 juta.