Duka dari Puncak Lawu, Pendaki Meninggal Proses Evakuasi Dihadang Medan Sulit
- Ist/VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja – Gunung Lawu, yang kerap jadi tujuan favorit para pendaki, kembali membawa kabar duka. Seorang pria asal Jakarta bernama Riky Gumilar (41) meninggal dunia saat mendaki bersama rombongan melalui jalur Cemoro Kandang pada Sabtu (10/5).
Riky merupakan bagian dari rombongan berjumlah 19 orang yang berasal dari Tangerang dan Jakarta.
Mereka mulai mendaki sejak pagi, namun nahas, saat perjalanan menuju Pos 3, tepatnya setelah melewati Pos 2 dan berada di atas Pos Bayangan, Riky tiba-tiba jatuh pingsan.
Informasi mengenai insiden ini pertama kali diterima oleh para relawan di Pos Cemoro Kandang pada pukul 16.29 WIB.
Menurut Budi, seorang relawan dari Anak Gunung Lawu (AGL), laporan disampaikan oleh sesama pendaki yang berada di lokasi kejadian.
“Tim di lapangan bersama para pendaki lainnya segera memberikan pertolongan pertama. Namun, sayangnya, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan,” ujar Budi kepada wartawan.
Begitu kabar diterima, relawan AGL langsung berkoordinasi dengan BPBD Karanganyar. Tak butuh waktu lama, sekitar pukul 10 malam, tim SAR gabungan mulai bergerak menuju lokasi.
Proses evakuasi ini melibatkan banyak pihak dari SAR Karanganyar, SAR MTA, PMI, hingga Satgas BPBD dan para relawan lainnya.
Medan yang curam dan jalur yang licin membuat evakuasi tak bisa dilakukan cepat. Semua harus berhati-hati.
“Keselamatan tim jadi prioritas utama kami karena kondisi di lapangan memang cukup ekstrem,” ujar Hendro Prayitno, Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno.
Terpisah, Rifan Feir Nandhi relawan Karanganyar Emergency menyebut insiden ini menjadi pengingat penting akan perlunya kesiapan dalam kegiatan pendakian.
Calon pendaki disarankan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental, mempelajari karakteristik medan, memantau prakiraan cuaca, serta memperhitungkan batas kemampuan dan stamina.
Termasuk kelayakan pendaki sebelum memulai perjalanan, sebagai bagian dari upaya pencegahan kecelakaan di gunung.
"Edukasi dan perencanaan yang matang dapat mengurangi risiko di lapangan," pungkas Rifan.