Kirab Pusaka 1 Suro 2025 di Keraton Solo, Lima Kerbau Kiai Slamet Pimpin Tradisi Sakral Disambut Ribuan Warga
- VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Malam pergantian tahun dalam kalender Jawa kembali disambut dengan tradisi sakral di jantung budaya Kota Solo.
Pada Kamis malam (26/6/2025), Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kirab Pusaka 1 Suro 2025, sebuah prosesi tahunan yang sarat nilai spiritual dan budaya.
Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus momentum perenungan menyambut Tahun Baru Jawa.
Kirab dimulai tepat pukul 23.59 WIB, diawali dengan kemunculan lima ekor kerbau bule Kiai Slamet dari kandang karantina. Kerbau-kerbau keramat ini dipercaya sebagai penjaga spiritual keraton, dan setiap tahunnya menjadi cucuk lampah atau pembuka jalan dalam kirab.
Setibanya di halaman Kori Kamandungan, mereka disuguhi ketela sebagai bentuk penghormatan dan untuk menjaga suasana tetap tenang.
Setelah ritual singkat, arak-arakan kirab pun dimulai. Para abdi dalem mengenakan pakaian adat lengkap, membawa berbagai pusaka keraton, seperti tombak, keris, dan simbol-simbol kerajaan lainnya.
Di antara rombongan utama, tampak hadir Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Rojoputro Nalendra, putra mahkota Keraton Solo, yang berjalan khidmat mendampingi kirab.
Ribuan warga dan wisatawan memadati rute kirab sejak sore hari. Mereka berdiri di sepanjang jalan untuk menyaksikan langsung prosesi unik ini. Kirab mengambil rute mengelilingi pusat Kota Solo: mulai dari kompleks Keraton, melintasi Jalan Supit Urang, Alun-alun Utara, Jalan Pakubuwono, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, hingga Jalan Slamet Riyadi, sebelum akhirnya kembali ke area keraton.
Tak hanya warga, sejumlah pejabat pemerintahan juga terlihat mengikuti jalannya prosesi. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Solo Respati Ardi, serta Wakil Wali Kota Astrid Widayani hadir untuk memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya Keraton Solo yang menjadi bagian penting dari identitas Jawa Tengah.
Menurut sejarawan lokal, Kirab Pusaka 1 Suro bukan hanya ritual simbolik, tapi juga bentuk “cuci pusaka” secara spiritual. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, malam 1 Suro adalah waktu paling tepat untuk menyucikan diri, menjaga keseimbangan batin, dan menghormati perjalanan waktu.