Pemuda Desa Nglebak Panen Melon Perdana, Bukti Nyata Pertanian Modern Karanganyar Bisa Digemari Anak Muda
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Sebuah gerakan inspiratif lahir dari tangan-tangan kreatif pemuda Desa Nglebak, Munggur, Mojogedang, Karanganyar.
Melalui komunitas Gubug Sesarengan, mereka menyulap lahan seluas 500 meter persegi menjadi pusat budidaya melon modern dengan sistem greenhouse, sekaligus menegaskan bahwa sektor pertanian bukan lagi milik generasi tua.
Momentum panen perdana melon varietas Sweet Net yang digelar Minggu (13/7) itu dibalut dalam acara Saresehan dan Petik Melon bertema “Peran Strategis Pemuda di Era Modernisasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan.” Acara ini tak hanya jadi ajang panen, tapi juga ruang diskusi strategis tentang masa depan pertanian Indonesia.
Kasat Intel Polres Karanganyar Iptu Untung Basuki yang hadir mewakili Kapolres AKBP Hadi Kristanto menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif luar biasa para pemuda desa tersebut.
Ia mengatakan, keterlibatan anak muda dalam sektor pertanian harus terus didukung, terutama melalui pendekatan modern yang efisien dan ramah lingkungan.
“Kami bangga jadi bagian dari semangat ini. Kami hadir sebagai pembina sekaligus pendamping. Harapannya, model pertanian seperti ini bisa menular ke wilayah lain dan mendongkrak ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mendorong agar sistem pertanian greenhouse maupun hidroponik bisa menjadi solusi alternatif bagi generasi muda, terutama di tengah keterbatasan lahan.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Lestari, Khalik Rabani, menegaskan bahwa keberhasilan panen perdana ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda mampu menjadi pelaku utama di sektor pertanian.
“Kuncinya ada pada kemauan. Teknologi sudah ada, dukungan juga tersedia. Tinggal bagaimana kita mau memulai,” ungkap Khalik.
Melon yang dipanen memiliki berat rata-rata 2 kilogram dan dijual seharga Rp 25 ribu per kilogram. Menurut Khalik, musim dan cuaca mendukung sehingga proses budidaya berlangsung lancar tanpa kendala berarti.
Imam, selaku koordinator Gubug Sesarengan, menjelaskan bahwa komunitas ini bukan sekadar kelompok tani biasa.
Ia menyebutkan bahwa Gubug Sesarengan merupakan ruang tumbuh bersama anak muda dengan semangat membangun desa melalui jalur kreatif, terutama pertanian modern.
“Kami datang dari latar belakang berbeda, tapi punya tujuan yang sama: membuktikan bahwa pertanian bisa jadi masa depan yang menjanjikan bagi generasi muda,” jelas Imam.