Hilang Selama 24 Jam, Atha Bocah 4,5 Tahun di Karanganyar Ditemukan Meninggal di Sungai
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Setelah hampir 24 jam dinyatakan hilang, Atha Hafiz Alfarizi (4,5), bocah asal Desa Kendil, Jatimulyo, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, akhirnya ditemukan.
Namun pencarian itu berakhir duka. Atha ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di sebuah aliran sungai yang jaraknya dekat dari rumahnya, Rabu (16/7/2025) pagi.
Tim pencari gabungan dari Basarnas, relawan, TNI, Polri, hingga masyarakat setempat, sejak pagi menyisir berbagai titik lokasi. Fokus utama adalah area sungai, ladang, dan kebun di sekitar tempat tinggal korban.
Proses pencarian mulai menunjukkan hasil saat relawan menemukan celana merah dan dot bayi di sekitar area semak pinggir sungai. Barang-barang tersebut ditemukan sekitar 500 meter dari rumah Atha, tepat di area yang cukup sulit diakses.
Tim Evakuasi tengah melakukan evakuasi Atha Hafiz Alfarizi (4,5) dari sungai
- Ist/VIVA Jogja
“Kami langsung berhenti dan mengamankan lokasi. Barang-barang itu kami tunjukkan ke keluarga, dan pihak keluarga membenarkan itu milik Atha,” ungkap Rifan Feirnandhi, relawan dari Karanganyar Emergency, yang sejak awal terlibat dalam pencarian, pada VIVA Jogja, Rabu (16/7/2025).
Bermodal penemuan barang itu, tim pencari memperketat penyisiran di sekitar lokasi. Tak lama berselang, tubuh bocah malang itu ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di aliran sungai yang cukup tersembunyi, tertutup vegetasi lebat.
Atha dilaporkan hilang pada Selasa (15/7/2025) siang, sekitar pukul 12.00 WIB. Menurut penuturan keluarga, Atha masih terlihat bermain di dalam rumah bersama neneknya pada pagi hari. Namun saat sang nenek kembali dari dapur beberapa saat kemudian, cucunya sudah tidak tampak.
Pagar rumah ditemukan dalam keadaan terbuka. Dugaan awal menyebut Atha keluar rumah sendiri tanpa pengawasan, lalu mengarah ke area terbuka di sekitar pemukiman.
Keluarga sempat melakukan pencarian mandiri dibantu warga, namun hasil nihil. Hingga akhirnya bantuan dari Basarnas dan relawan dikerahkan untuk pencarian skala lebih luas.
Sejak malam pertama hingga pagi hari, pencarian dilakukan secara intensif. Tim yang tergabung dari unsur BPBD, Basarnas, PMI, relawan, hingga aparat desa dan warga setempat bekerja dalam kondisi medan sulit. Beberapa titik sungai yang tertutup semak dan berlumpur menjadi tantangan tersendiri.