KH Anwar Zahid Tak Kasih Ampun, Bupati Karanganyar Di-roasting dari Nama Sampai Jabatan
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Ribuan pasang mata tertuju ke atas panggung. Bukan karena seorang pejabat atau selebritas, tapi karena KH Anwar Zahid, dai kharismatik asal Bojonegoro, naik panggung dengan gaya santainya yang khas.
Belum lima menit bicara, gelak tawa sudah membahana. Tapi siapa sangka, sore itu, Bupati Karanganyar Rober Christanto pun tak luput dari "roasting" pedas sang kiai—yang justru membuat suasana semakin cair dan penuh keakraban.
Acara bertajuk Tausiyah Kebangsaan ini digelar di tiga titik padat massa: Lapangan Jaten, Karangpandan, dan Ngargoyoso, diprakarsai oleh mantan Bupati Karanganyar, Dr. Rina Iriani Sriratnaningsih.
Di Jaten saja, lebih dari 1.500 warga tumpah ruah, menyambut kedatangan Abah Anza—sapaan akrab KH Anwar Zahid—yang disebut-sebut sudah dua tahun ditunggu-tunggu untuk bisa hadir ceramah di Karanganyar.
Tanpa banyak protokoler, Abah Anza langsung diminta naik panggung oleh Rina Iriani. Saat Bupati Rober dan Wakil Bupati Adhe hadir belakangan, mereka justru memilih duduk lesehan di panggung, menyatu dengan para jemaah. Gestur itu langsung ditangkap tajam oleh Abah Anza.
“Saya belum kenal dekat, tapi dengar kabar kalau Bupati Karanganyar ini merakyat. Dan ternyata benar. Nggak gengsi lesehan. Ini contoh pejabat yang paham akhlak,” ucapnya, lalu menyelipkan candaan, “Tapi ojo seneng disanjung, nanti kalau pensiun ora ono seng nglirik.”
Suasana mendadak meledak ketika sang kiai dengan spontan memberikan mikrofon kepada Bupati. Tak ingin kalah gaya, Rober langsung balas menyindir.
“Saya dengarkan ceramah pertama di Jaten. Tapi kalau sampai tiga titik nanti ceramahnya isinya sama yaaa…,” ucap Rober sambil tertawa, lalu menambahkan, “Namanya Abah Anzay, kaya aktor Bollywood.”
“Jenenge sopo? Rober Christanto? Oh... berarti RomaDLON PAS Oktober. Pantes jenenge Rober!” candanya tajam namun tetap santun, disambut gelak tawa yang nyaris tak berhenti dari para hadirin.
Namun di balik gelaknya, ceramah malam itu tetap menyelipkan pesan yang dalam. Abah Anza menyoroti fenomena pejabat yang cepat dilupakan setelah lengser.
“Waktu menjabat disanjung, sepatunya dibawain, pintu mobil dibukain. Tapi coba pensiun. Mobilnya aja ora diijoli, malah dikira debt collector. Tapi beda kalau kiai. Makin sepuh, makin dikepung santri dan barokahnya ngalir,” ucapnya penuh makna.