SGS 2025 Jadi Bukti Nyata Aglomerasi Soloraya, Transaksi Tembus Rp9,57 Triliun
- VIVA Jogja
SOLO, VIVAJogja — Soloraya Great Sale (SGS) 2025 bukan sekadar ajang belanja tahunan dengan potongan harga besar-besaran.
Di balik gemerlap promo, SGS menjelma menjadi gerakan kolektif membangun kekuatan ekonomi kawasan Soloraya secara nyata.
Memasuki hari ke-24 pelaksanaan, SGS 2025 mencatat total transaksi mencapai Rp9,57 triliun dengan 225.185 transaksi.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antarwilayah di Soloraya telah bergerak melampaui konsep aglomerasi semata.
“Soloraya Great Sale bukan sekadar festival diskon. Tahun ini menjadi tonggak penting terbentuknya kesadaran kawasan untuk tumbuh bersama. KADIN dari tujuh kabupaten/kota bergerak aktif, kepala daerah saling mendukung, pelaku usaha ikut ambil bagian, dan masyarakat merespons dengan antusias. Ini adalah cermin semangat baru,” ungkap Ketua Pelaksana SGS 2025, Ferry.
Tiga daerah mencatat kontribusi ekonomi tertinggi: Karanganyar, Surakarta, dan Sragen. Geliat ekonomi tak hanya datang dari sektor perdagangan dan ritel, tapi juga menyentuh sektor pariwisata, transportasi, UMKM, teknologi, hingga keuangan.
Momentum SGS juga didukung oleh sinergi berbagai pihak. PLN menghadirkan program Power Deals, PT KAI memberi diskon tiket, Bank Indonesia mendorong penggunaan QRIS, Bank Jateng membuka akses pembiayaan, dan Grab memfasilitasi mobilitas masyarakat. Semuanya bergerak dalam satu frekuensi untuk mendorong pertumbuhan kawasan.
Di sisi lain, nuansa aglomerasi juga hidup lewat ragam agenda lintas daerah selama masa liburan. Di Surakarta, perhelatan seperti Solo Batik Carnival, Wayang Bocah, dan Solo Art Movement menyatukan seni, budaya, dan belanja dalam satu paket pengalaman. Sukoharjo meriah dengan Creative Expo dan Run Tourism, sementara Klaten tampil dengan Lurik Carnival, Job Fair, hingga Gelar Produk se-Soloraya.
Dengan sisa waktu delapan hari menuju penutupan, SGS 2025 tak hanya mencatat nilai transaksi tinggi, tapi juga menguatkan kesadaran lintas wilayah tentang pentingnya kolaborasi. Gerakan ekonomi ini menjadi bukti bahwa ketika seluruh elemen daerah bersinergi, pertumbuhan tak lagi eksklusif, tetapi inklusif dan berkelanjutan.