TPA Sukosari Overload 140 Ton Sampah per Hari, DLH Karanganyar Wajibkan Horeka Kelola Limbah Secara Mandiri

TPA Sukosari Overload
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - TPA Sukosari di Kabupaten Karanganyar kini berada di ambang krisis. Tempat pembuangan akhir ini menerima sampah hingga 140 ton per hari, melebihi kapasitas idealnya. 

img_title SILPA Rp214 Miliar Jadi Modal Baru Karanganyar, DPRD Minta Dimaksimalkan untuk Percepat Pembangunan dan Dongkrak PAD

Menghadapi situasi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar mengambil langkah konkret dengan mendorong sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) untuk mengelola sampahnya secara mandiri dari sumber.

“Kalau kita terus berpikir hilir, APBD kita habis untuk angkut sampah. Karena itu arahan Bapak Bupati jelas: sampah harus tuntas di sumbernya,” ujar Kepala DLH Karanganyar, Sunarno, dalam sosialisasi di Hotel Grand Bintang Tawangmangu, Kamis (31/7/2025). 

img_title Tekan Kebocoran PAD, DPRD Karanganyar Dorong Seluruh Pembayaran Pajak dan Retribusi Beralih ke Sistem Digital

DLH mencatat, sektor Horeka menyumbang sekitar 20 hingga 30 ton sampah per hari, terutama sampah organik. Sementara penyumbang tertinggi berasal dari pasar.

“Kontribusi Horeka terhadap perekonomian tinggi, tapi juga menyumbang limbah yang besar. Ini harus dikelola secara serius,” tegas Sunarno.

img_title Festival Perumahan Karanganyar Dibuka, 42 Pengembang Tawarkan Rumah Subsidi Mulai Rp166 Juta

Untuk itu, DLH menggelar sosialisasi kepada puluhan pelaku usaha Horeka agar tidak lagi bergantung pada TPA. Targetnya, TPA Sukosari hanya menerima residu—sampah yang tidak dapat diolah lagi—mulai awal tahun depan.

DLH mencontohkan beberapa unit usaha seperti Hotel Al-Azhar dan ESK5 yang telah menerapkan sistem pengelolaan mandiri. Mereka sebelumnya mengirim hingga 17–18 truk sampah per bulan ke TPA. Namun, kini hanya tinggal 3–4 truk berkat inovasi kolaboratif.

Sampah organik mereka dimanfaatkan sebagai pakan ayam, lele, dan entok melalui kerja sama dengan peternak lokal. Sementara sampah anorganik yang masih bernilai, dikumpulkan oleh karyawan dan dijadikan bonus internal.

“Hasilnya, mereka tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga menciptakan ekonomi sirkular. Bahkan, anggaran pengelolaan bisa ditekan nyaris nol rupiah,” kata Sunarno.

DLH menyatakan bahwa pengelolaan sampah mandiri tidak membutuhkan teknologi mahal. Pelaku usaha cukup membuat lubang komposter sederhana atau bermitra dengan warga sekitar. Kunci utamanya adalah kemauan dan tanggung jawab sosial.

“Prinsipnya, Horeka wajib mandiri. Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi menyangkut keberlanjutan lingkungan dan beban fiskal daerah,” tegasnya.

Sosialisasi yang diikuti sekitar 90 pelaku Horeka dari Tawangmangu dan sekitarnya ini merupakan bagian awal dari program “Sampah Tuntas di Sumber” yang dicanangkan pemerintah daerah. DLH akan memperluas kegiatan ke wilayah barat seperti Colomadu, serta empat titik desa lainnya, dengan Bupati sebagai narasumber utama.

Halaman Selanjutnya
img_title