Terkesima Cita Rasa Garang Asem Kelinci, Bupati Rober Christanto Dorong Jadi Ikon Kuliner Karanganyar
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Pernah coba garang asem dari daging kelinci? Kalau belum, mungkin saatnya kamu melirik Karanganyar, Jawa Tengah.
Lewat ajang Lomba Cipta Menu yang digelar oleh Pokja 3 PKK Kabupaten Karanganyar, kreasi unik ini muncul dan langsung jadi sorotan.
Dari sekian banyak menu yang ditampilkan, salah satu yang paling menarik perhatian datang dari Kecamatan Colomadu: garang asem kelinci.
Rasanya segar, gurih, dan sedikit asam pedas khas garang asem—tapi dengan twist yang nggak biasa.
Bupati Karanganyar, Rober Christanto, bahkan menyebut menu ini punya potensi besar untuk jadi ikon kuliner lokal.
"Garang asem kelinci dari Colomadu ini rasanya enak banget. Kalau bisa diproduksi terus, bukan nggak mungkin jadi daya tarik wisata kuliner di Karanganyar," kata Rober saat menghadiri acara, Rabu (6/8/2025).
Lomba yang diikuti oleh 17 kecamatan ini memang bukan sekadar ajang pamer masakan. Tujuan besarnya adalah mendorong kreativitas ibu-ibu PKK agar bisa melahirkan produk kuliner khas daerah yang bisa dipasarkan lebih luas.
Selain garang asem kelinci, ada juga menu-menu inovatif lainnya seperti dimsum dari apem singkong, dendeng lele, sampai olahan talas kekinian yang layak masuk katalog makanan viral.
"Saya minta ini nggak cuma berhenti di lomba saja. Harus dilanjutkan jadi produk UMKM yang bisa menghasilkan uang dan menggerakkan ekonomi lokal," lanjut Rober.
Garang asem sendiri dikenal sebagai salah satu makanan khas Jawa Tengah, terutama dari daerah Kudus. Tapi versi kelinci dari Karanganyar ini memberikan rasa yang sedikit berbeda. Tekstur dagingnya empuk, kuahnya segar, dan kalau disantap hangat-hangat… auto nambah nasi.
Menu ini jelas punya peluang besar untuk dipasarkan, apalagi tren kuliner saat ini makin terbuka untuk inovasi yang berani dan beda.
Kalau kamu kebetulan main ke Karanganyar, coba deh cari garang asem kelinci dari Colomadu ini. Siapa tahu beberapa bulan lagi, sudah jadi menu wajib di resto-resto lokal atau bahkan nampang di aplikasi delivery food favorit kamu.
Kuliner lokal makin seru kalau terus dikembangkan. Dari dapur ibu-ibu PKK, siapa sangka bisa lahir potensi baru untuk ekonomi daerah?