BPIP Gelar Pentas Wayang Kulit di Sukoharjo, Lakon “Bimo Suci” Angkat Pesan Pancasila
- VIVA Jogja
SUKOHARJO, VIVA Jogja - Ribuan warga tumpah ruah di Alun-alun Satya Negara Sukoharjo pada Sabtu (23/8) malam untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit lakon “Bimo Suci”.
Acara yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini menghadirkan dalang muda Ki Amar Pradopo, sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI dan HUT ke-79 Kabupaten Sukoharjo.
Pertunjukan disiarkan langsung oleh Radio Slenk FM, sehingga masyarakat yang tidak hadir di lokasi tetap dapat mengikuti jalannya pagelaran.
Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerja Sama BPIP, Toto Purbiyanto, mengatakan pihaknya terus mencari cara kreatif untuk menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila, salah satunya lewat seni pertunjukan.
“Kami diminta Presiden untuk membawa Pancasila hadir dalam kehidupan sehari-hari. Malam ini, wayang kulit menjadi sarana yang efektif karena dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya juga menjadi perhatian BPIP. “Kami ingin budaya bangsa, khususnya wayang, terus dijaga. Jangan sampai kita kalah oleh budaya asing yang semakin deras masuk,” tegas Toto.
Dalang Ki Amar Pradopo, putra bungsu almarhum Ki Warseno Slenk, menjelaskan bahwa lakon Bimo Suci menceritakan perjalanan spiritual Bimo atau Werkudara mencari ilmu kehidupan dari gurunya, Durna.
“Dalam kisah ini, Bimo belajar tentang gotong royong, menghargai sesama, hingga ketahanan diri. Nilai-nilai itu sangat relevan dengan Pancasila. Setelah berguru, ia bahkan membagikan ilmu kepada masyarakat. Ini selaras dengan semangat nasionalisme,” jelas Ki Amar.
Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, mengapresiasi kegiatan yang digelar BPIP. Menurutnya, pagelaran wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan masyarakat.
“Terima kasih kepada BPIP yang memilih Sukoharjo sebagai lokasi acara. Wayang ini bukan hanya tontonan, melainkan juga tuntunan. Dari lakon Bimo Suci, banyak nilai yang bisa kita teladani,” ungkapnya.