FIM Desak Presiden Copot Kepala BIN Usai Demo Rusuh di Jakarta dan Kota Lain Tewaskan Warga

Ketua Bidang Aksi dan Advokasi FIM Aqil Maulidan saat berorasi
Sumber :
  • Ist/VIVA Jogja

SOLO, VIVA Jogja - Kerusuhan yang terjadi selama demonstrasi di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia menarik perhatian Forum Indonesia Maju (FIM). 

img_title Bendungan Jlantah Resmi Beroperasi, Perkuat Pasokan Air Pertanian Karanganyar

Demonstrasi yang semula berjalan damai berubah menjadi anarkis dan menelan korban jiwa, termasuk warga yang meninggal akibat tindakan aparat keamanan.

Aqil Maulidan, Ketua Bidang Aksi dan Advokasi FIM, menyatakan rasa prihatin yang mendalam. “Kami semua berbelasungkawa dan sangat menyayangkan adanya tindakan yang tak seharusnya dilakukan oleh aparat keamanan hingga menghilangkan nyawa warga, seperti yang menimpa almarhum Affan Kurniawan,” ujar Aqil, dalam rilis yang diterima VIVA Jogja, Kamis (11/9/2025).

img_title Peresmian Jalan Daerah di 37 Provinsi secara Daring, Presiden Dorong Konektivitas Nasional Lewat

Aqil menekankan bahwa aksi demonstrasi di Indonesia memang dilindungi oleh Undang-Undang. Namun, pemerintah melalui Badan Intelijen Negara (BIN) seharusnya mampu mendeteksi dini terkait aksi yang berpotensi anarkis. 

“Kita semua mengerti bahwa demonstrasi atau menyampaikan pendapat di muka umum dilindungi oleh UU, dan sekelas negara seharusnya bisa mendeteksi bahwa demonstrasi yang dilakukan akan berpotensi chaos dan sebagainya, di sini seharusnya fungsi BIN terlihat,” jelasnya.

img_title Budiman Sudjatmiko Jelaskan Kehadiran Negara di MBG dan Sekolah Rakyat, Subsidi Kedelai Menyusul

Kronologi kejadian, menurut FIM, dimulai pada 25 Agustus, ketika demo yang awalnya damai di beberapa kota berubah menjadi rusuh. 

Massa merusak fasilitas umum, menjarah toko, dan bentrok dengan aparat keamanan. Aqil menilai kegagalan BIN dalam mendeteksi dini situasi ini menjadi faktor utama eskalasi.

“Presiden Prabowo harus mengambil langkah tegas, copot Kepala BIN Herindra yang gagal mendeteksi aksi brutal dari 25 Agustus. Seharusnya aksi lanjutan yang mengakibatkan banyak fasum rusak dan penjarahan, tidak akan terjadi jika BIN mampu mendeteksi dari awal, sehingga aparat bisa mengambil langkah terukur lebih awal untuk antisipasi massa,” tegas Aqil.

FIM juga menegaskan kesiapannya untuk melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk protes atas kinerja intelijen negara. “Apabila Presiden Prabowo tidak segera mencopot kepala BIN, maka kami siap konsolidasi untuk melakukan aksi demonstrasi. Terjadinya aksi brutal di mana-mana karena akibat ketidakbecusan kinerja BIN,” ungkap Aqil.

Selain itu, Aqil mengajak seluruh elemen masyarakat, aktivis, dan organisasi kemasyarakatan untuk bersatu menuntut peningkatan kinerja BIN demi keamanan publik. Ia menekankan pentingnya pengawasan publik terhadap aparat agar hak-hak warga tetap terlindungi, sekaligus mencegah terulangnya kekerasan dalam demonstrasi.

Halaman Selanjutnya
img_title