Perbankan Soloraya Kompak! Edukasi Rupiah dan Porsesba 2025 Gairahkan Ekonomi Surakarta
- Ist/VIVA Jogja
SOLO, VIVA Jogja - Rangkaian kegiatan edukasi “Serdadu 2025” resmi ditutup di Kota Surakarta. Acara yang diinisiasi Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan Soloraya ini sekaligus membuka ajang Pekan Olahraga dan Seni Perbankan (Porsesba).
Kegiatan tersebut mendapat perhatian khusus dari Wali Kota Surakarta, Respati Ardi. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat terkait ciri keaslian Rupiah di tengah maraknya peredaran uang palsu di pasaran.
“Awal Januari lalu, ada pedagang di pasar tradisional yang berhasil menggagalkan transaksi menggunakan uang palsu. Ini bukti bahwa edukasi tentang ciri Rupiah asli sangat penting agar masyarakat tidak dirugikan,” ujarnya, Sabtu (13/9)/2025).
Program edukasi Serdadu tahun ini mengusung tagline Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Berbagai kegiatan telah digelar, mulai dari sosialisasi di sekolah dan perguruan tinggi hingga lomba kreatif bagi guru.
Tujuannya, menanamkan pemahaman tentang Rupiah sejak dini agar generasi muda bisa menjadi agen literasi keuangan di keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Selain edukasi, Bank Indonesia juga berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup Surakarta. Salah satu inovasinya adalah pemusnahan uang tidak layak edar yang kemudian disalurkan ke bank sampah, sehingga turut mendukung pengelolaan sampah kota.
Porsesba yang dibuka bersamaan dengan penutupan Serdadu menjadi ajang memperkuat kebersamaan antarperbankan di Soloraya. Melalui olahraga dan seni, para pelaku industri keuangan diharapkan semakin solid sekaligus sehat dan kreatif.
“Perbankan Soloraya siap berkontribusi untuk pembangunan ekonomi Surakarta. Kami mendukung penuh upaya pemerintah kota dalam menciptakan ekosistem usaha yang kuat dan berdaya saing,” tegas Ketua Porsesba BPD Soloraya, Setyo.
Wali Kota Respati juga menyinggung tantangan perbankan di era digital. Menurutnya, strategi pemasaran produk perbankan perlu lebih adaptif karena perilaku pasar bergeser cepat, termasuk pengaruh media sosial terhadap pola konsumsi masyarakat.
“Banyak pelaku usaha baru muncul di Surakarta, khususnya anak muda. Perbankan harus jeli membaca peluang ini. Pemerintah kota siap memfasilitasi diskusi bersama agar strategi perbankan lebih tepat sasaran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemerintah kota tengah mendorong kemandirian fiskal dan membuka ruang kolaborasi luas dengan sektor perbankan. “Kita optimis, dengan soliditas semua pihak, geliat ekonomi Surakarta akan semakin kuat,” tutupnya.