RSUD Kartini Karanganyar Resmikan Layanan Hemodialisis, Enam Mesin Siap Layani Pasien Gagal Ginjal

Dirut RSUD Kartini Karanganyar Arif Setiyoko
Sumber :
  • VIVA Jogja

KAANGANYAR, VIVA Jogja - Kabar baik datang bagi masyarakat Karanganyar dan sekitarnya. Setelah sempat tertunda, RSUD Kartini Karanganyar akhirnya meresmikan layanan hemodialisis (HD) atau cuci darah pada 19 September 2023.

img_title Senyum Dibalik Perjuangan Tak Kenal Lelah, JKN Menjadi Penjaga Harapan Para Penyintas Penyakit Kronis

Layanan ini menjadi jawaban atas kebutuhan pasien gagal ginjal yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh ke kota lain untuk mendapatkan terapi rutin.

Direktur RSUD Kartini Karanganyar, Arif Setyoko, menjelaskan bahwa layanan ini sebenarnya direncanakan mulai beroperasi pada Agustus lalu. Namun, kondisi nasional sempat bergejolak dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberlakukan kebijakan work from home (WFH), sehingga agenda visitasi harus ditunda.

img_title Cakupan JKN Lampaui 99 Persen, BPJS Kesehatan Cabang Pekalongan genjot Keaktifan Peserta

“Karena situasi di Jakarta saat itu, kantor Kemenkes WFH semua. Akhirnya visitasi mundur, dan baru bisa dilakukan pada 19 September. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, layanan langsung bisa dibuka,” ungkap Arif Setyoko saat ditemui VIVA Jogja, Selasa (16/9/2025). 

Visitasi merupakan tahapan penting sebelum fasilitas hemodialisis bisa beroperasi. Tim dari Kemenkes menilai berbagai aspek, mulai dari standar ruangan, kelayakan alat medis, kesiapan tenaga kesehatan, hingga pola kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar layanan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

img_title Saat Mobil BPJS Keliling Berhenti di Balai Desa, Harapan Warga untuk Berobat Kembali Menyala

“Intinya visitasi adalah uji kesiapan. Kalau sudah lolos, langsung bisa beroperasi. Jadi tidak butuh waktu lama dari visitasi ke pembukaan layanan,” tambah Arif.

Pada tahap awal, RSUD Kartini menyiapkan enam unit mesin hemodialisis. Mesin-mesin tersebut siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasien gagal ginjal kronis yang harus menjalani cuci darah rutin, biasanya 2–3 kali dalam seminggu.

Arif menambahkan, jumlah mesin bisa bertambah melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) dengan pihak ketiga. Skema ini memungkinkan rumah sakit menambah fasilitas tanpa harus membeli langsung, sehingga lebih efisien dalam pembiayaan.

“Kalau kebutuhan meningkat dan prospeknya bagus, pihak ketiga siap menambah mesin. Jadi kapasitasnya bisa berkembang sesuai kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Salah satu poin penting dari pembukaan layanan ini adalah integrasi dengan BPJS Kesehatan. Dengan begitu, pasien tidak terbebani biaya besar.

“Mesin hemodialisis ini harganya mahal, begitu juga dengan bahan habis pakainya. Tapi dengan dukungan BPJS, pasien bisa lebih ringan secara finansial. Kami ingin masyarakat Karanganyar mendapat akses layanan cuci darah yang aman, terjangkau, dan dekat dari rumah,” tutur Arif Setyoko.

Halaman Selanjutnya
img_title